Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 9

Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 9by on.Cerita Ngentot Slamet Kan Aku – Part 9Slamet Kan Aku – Part 9 TEMAN LAMA Hari ini aku ada janji dengan ibu Erlita untuk bimbingan. Tapi tumben si Pepaya Tua meminta aku untuk datang lebih siang dari biasanya. Lumayanlah bisa buat nambah jam tidurku hari ini, karena gak harus berangkat pagi-pagi. Tepat jam 10 aku sudah berada di parkiran kampus, tujuanku pertama […]

tumblr_n7hluhudQf1speriko4_1280 tumblr_n7hluhudQf1speriko5_1280Slamet Kan Aku – Part 9

TEMAN LAMA

Hari ini aku ada janji dengan ibu Erlita untuk bimbingan. Tapi tumben si Pepaya Tua meminta aku untuk datang lebih siang dari biasanya. Lumayanlah bisa buat nambah jam tidurku hari ini, karena gak harus berangkat pagi-pagi.

Tepat jam 10 aku sudah berada di parkiran kampus, tujuanku pertama sebelum bertemu dengan ibu Erlita tentu saja untuk melihat senyum dari bidadariku si Janah. Sebelum ada sapaan dari orang yang sedikit mengagetkanku.

“Hey Slamet, apa kabar?, ngapain kamu ke kampus?” sapa orang itu

“Eh kamu Jo, baik kok, ini aku ada bimbingan sama bu Erlita, lha kamu ngapain ke kampus?” tanyaku balik

“Aku ada kelas Met.” jawabnya

“Lho, kamu belum lulus toh?, kirain udah lulus?”

“Iya Met, ngobrolnya di Kantin aja ya.” ajaknya

“Ya udah, aku janjiannya juga masih lama kok.”

Ternyata hari ini aku bertemu dengan kakak angkatanku. Paijo, nama aslinya sih bukan Paijo, kalo gak salah sih Rendra Aura Dewa tapi gak tahu kenapa dia dipanggil dengan nama Paijo. Sampai pernah suatu saat si Paijo minta tolong untuk titip absen samaku, kalian jangan heran kalo dia titip absen sama aku, buktinya sampai hari ini aja dia masih ada kuliahkan. Ketika aku cari nama Paijo di lembaran absen tidak ketemu nama Paijo, aku urutin dari no absen 1 sampai 30 aku lihat satu-satu tidak ada mahasiswa yang bernama Paijo, Nama yang belakangnya pakai Jo saja juga tidak ada. Beberapa kali aku aku cari masih saja tidak ketemu. Sampai akhirnya di sms nama lengkap dan itu pertama kali aku tahu siapa nama lengkap kakak kelasku ini.

Kalau untuk ukuran wajah, sebenarnya wajah Paijo ini termasuk cakep, ya paling tidak selisih 2 nomor lah kalau dibandingin dengan aku. Kalau aku dapat nilai -3 berarti wajahnya ada diukuran -5. Sedangkan kalau dilihat dari badan jangan pernah sekalipun bandingin aku dengan dia, dia itu hoby nya ke tempat fitnes. Bairpun aku gak tau tujuan dia ke tempat fitnes mau ngapain, entah beneran mau olah raga apa mau godain cowok-cowok berbodi kekar disana. Maklum aja lah, Paijo ini kan orangnya bener-bener super cabul. Si Anas yang sudah ada di Cabul tingkat akut masih tetap saja kalah cabul dengan kelakuan kakak angkatanku ini.

Pernah suatu ketika saat kelas sedang berlangsung, kami duduk di urutan paling belakang, Paijo membisikkan sesuatu kepadaku.

“Met, temenmu seksi banget.” bisiknya sambil melirik si Novi yang memang saat itu memakai rok diatas paha.

Tanpa banyak babibu lagi dia langsung saja mengeluarkan penisnya dan mengocoknya secara perlahan. Aku yang melihatnya langsung pengen muntah. Bayangin aja deh, kalau seumpama itu penis sebesar yang pernah aku tonton di film-film sih mungkin aku ikut nafsu. Eh gak lho ya, sumpah biarpun segedhe apapun penis Paijo aku sama sekali gak nafsu liatinnya, yang ada malah jijik. Sedangkan ini penis sebesar ulet bulu dikeloco di dalam kelas. Untung saja kami ada diurutan paling belakang sehingga temanku yang lain tidak memperhatikan apa yang Paijo lakukan. Apa lagi dia mengocok ulet bulu itu sampai isinya keluar. Huekk menjijikkan sekali bukan. Tapi ya itulah Paijo, kakak angkatanku yang paling baik di Asia Tenggara.

Balik lagi ke jaman sekarang ya, kami berdua sudah duduk di dalam kantin. Aku memesan 1 gelas susu coklat hangat. Sedangkan entah kenapa Paijo hanya memesan 1 gelas air putih saja. Sepertinya memang dia sedang tidak punya uang, sehingga sekedar untuk membeli minuman saja dia tidak mampu. Sungguh kasian sekali nasib kakak kelasku ini. Aku yang tidak tega melihat dia hanya memesan air putih pun segera memesankan secangkir kopi dan memesankannya semangkuk soto. Pasti kalian akan menyangka kalau aku sombong. Tidak, tidak, Aku tidak sombong kok, tapi aku lagi seneng aja, gimana gak seneng, aku yang selama ini merasa menjadi mahasiswa paling tua disini, ternyata bertemu dengan kakak kelasku yang sampai saat ini juga masih belum lulus, dan lebih bagusnya lagi aku sudah bebas teori sedangkan dia masih ada kelas. Jadi kan nasibku tidak seburuk yang aku bayangin selama ini, ternyata nasib Paijo lebih suram dari nasibku.

Makanan dan minuman kami sudah diantarkan ke meja kami. Ternyata yang mengantarkan adalah si Kopi pahit.

“Ini mas Slamet makanan dan minumannya.”

“Terima kasih Hesti.” jawabku sambil tersenyum

Hesti pun bergegas untuk meninggalkan kami. Paijo yang yang mendengarkan percakapan kami juga langsung ikut nyerocos.

“Kamu kenal yang tadi itu Met?” tanya Paijo sambil tangannya menuju keselangkangannya.

“Kenal Jo, tapi tolong deh Jo, jangan kamu keluarin itu ulet bulumu disini, bisa bikin heboh satu kampus nanti.” jawabku

“Nanti aku kasih no telp dia deh, asal kamu gak berbuat aneh-aneh dulu.” imbuhku

“Oke Met.” jawab Paijo

Paijo pun segera memindahkan letak tangan yang dari tadi sudah berada di selangkangannya. Dan sesuai janjiku, aku memberikan kontak si Kopi pahit kepadanya. Dengan demikian paling tidak aku bisa menghindar dari kejaran si kopi pahit.

Dari tadi aku tidak melihat si Janah di meja kasir, entah kenapa ada sesuatu yang hilang saat aku tak menemukan senyumannya hari ini. Di meja kasir terlihat ibu-ibu separuh baya yang menggantikan Janah. Kemana dia, apa yang sedang terjadi, aku harus segera mencari tahu. Mau tidak mau aku harus tanya sama Hesti. Tapi itu nanti saja, ada hal yang lebih penting kali ini. Aku harus segera bimbingan si Pepaya tua.

Setelah membayar makanan dan minuman si Paijo, aku segera melangkahkan kaki menuju ruangan dosen. Di tempat itu sudah menunggu ibu Erlita, tempat dimana aku akan menghabiskan waktukku untuk saling cium, saling raba dan saling memuaskan. Eh ngomong apa lagi aku, maksudku adalah tempat untuk bimbingan skripsi, karena hari ini pertama kali aku bimbingan lagi setelah judulku diterima oleh beliau.

“Permisi.” kata ku sambil mengetuk pintu dosen

“Masuk.” jawab seseorang dari dalam

Aku langsung menuju meja ibu Erlita, sepertinya beliau sudah menungguku. Untuk kali ini jantungku berdegup sangat kencang, seperti orang yang akan mengungkapkan cinta kepada seseorang yang dia cintai. Ealah kenapa aku jadi ngelantur gini, benar-benar memalukan.

Aku menyerahkan proposal skripsiku yang beberapa hari ini aku kerjakan, semua sumber aku dapatkan dari situs terpintar yang ada di dunia. Ya dari situs itu aku bisa mencari semua informasi yang aku inginkan. Si Pepaya tua membaca dengan teliti proposal yang aku serahkan. Sesekali beliau memberikan coretan terhadap proposalku itu. Aku yang menunggu hasil koreksi dari ibu Erlita hanya bisa terdiam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Suasana diruangan pun menjadi sunyi, dan tiba-tiba.

“Peliku obah- obah.. hemmm.. Gawukku megap- megap.. hemm” dering telponku mengagetkan aku.

Tampak bu Erlita juga terkaget dengan apa yang dia dengar. Waduh aku lupa mengganti ringtone hpku. Mukaku langsung memerah ketika suara ringtone tadi menggema diruang dosen. Ditambah lagi beberapa dosen yang ada di dalam ruangan juga langsung mengarah ke arahku. Pasti mereka menganggap aku mahasiswa mesum, padahalkan aku mahasiswa baik-baik yang hanya ingin cepat lulus. Kalau masalah ringtone ini kan beda acara dengan kelulusanku. Aku cuma lupa menggantinya saja.

Akhirnya bimbingan kali ini selesai juga. Si Pepaya Tua mengembalikan proposal skripsi kepadaku. Kulihat banyak coretan yang harus aku perbaiki, tapi lupakan itu sejenak, aku harus segera pamit untuk pulang. Jadi paling tidak aku bisa melupakan malu ini sejenak.

“Terima Kasih banyak bu, nanti proposalnya segera saya perbaiki.”

“Iya mas Slamet, minggu depan saya cuti, jadi kalau nanti mau bimbingan di rumah saja ya.”

“Ini alamat saya.” lanjut bu Erlita sambil memberikan selembar kertas bertuliskan sebuah alamat.

Aku masih penasaran siapa tadi yang meneleponku waktu bimbingan, bikin malu aku saja. Aku check kembali layar HP ku, terlihat 1 panggilan tak terjawab dan 2 pesan dari Anas.

“Kamu dimana?, cepat pulang, ada masalah.” sms Anas yang pertama

“Cepet pulang cuk, kampung kita dalam masalah genting.” lanjutnya

Author: 

Related Posts

Comments are closed.