Cerita Hot 4 Hearts & A Fool – Part 92

Cerita Hot 4 Hearts & A Fool – Part 92by on.Cerita Hot 4 Hearts & A Fool – Part 924 Hearts & A Fool – Part 92 Urusan Rangga ini benar-benar membuatku sangat kuatir sekali akan keselamatan Rangga dan yang lainnya. Aku, Rika dan Dyana berusaha keras menutupi absennya Rangga, Hari, Edi, Oli dan Rani. Hanya Rani yang tidak ada kabarnya. Sudah dua hari dia tidak masuk kerja, semenjak peristiwa di Anyer itu. Aku […]

multixnxx-Happy Double Penetration! -15 multixnxx-Happy Double Penetration! -164 Hearts & A Fool – Part 92

Urusan Rangga ini benar-benar membuatku sangat kuatir sekali akan keselamatan Rangga dan yang lainnya. Aku, Rika dan Dyana berusaha keras menutupi absennya Rangga, Hari, Edi, Oli dan Rani.

Hanya Rani yang tidak ada kabarnya. Sudah dua hari dia tidak masuk kerja, semenjak peristiwa di Anyer itu.

Aku baru tau perasaan Rani yang sesungguhnya kepada Rangga, saat melihatnya begitu terpukul, saat mengetahui Rangga sudah resmi pacaran dengan Olivia. Aku benar-benar tidak menyangka-nya, dia akan bertindak nekat seperti itu.

Tapi aku mengerti apa yang ia rasakan, kalau rasa cintanya terhadap Rangga sebesar itu. Sangat mengerti sekali. Karena aku pun juga merasakan hal yang sama, walaupun mungkin tidak lah sesakit Rani.

Bukan karena aku kurang mencintai Rangga, tapi karena aku lah yang mengatur moment agar Rangga bisa jadian ama Oli. Aku dan Cherllyne. Dan kami pun sudah saling terbuka mengenai masalah ini, jadi boleh dibilang, aku dan Cherllyne jauh lebih siap, dalam menghadapi kenyataan, dibandingkan dengan Rani.

Aku sangat kasihan dengan Rani. Melihat nya terluka seperti itu, rasanya hati ku juga merasakan luka yang sama dengannya. Aku mencoba menghubungi Rani, tapi tidak diaktifkan ponselnya.

Aku sempat kuatir dia akan bertindak nekat lagi. Rani sempat menghubungiku kemarin, untuk mengabarkan tidak masuk kerja karena sakit. Aku mengetahui dengan jelas apa yang terjadi dengan Rani, memakluminya.

Tapi hari ini, dia tidak memberikan kabar sama sekali. Membuatku kembali kuatir dia akan bertindak nekat dan sembrono. Aku pusing sekali. Aku sangat kuatir akan keadaan Rani, tapi saat ini aku juga kuatir akan keselamatan Rangga, Oli, Hari, Edi, dan Karin, adiknya Rangga. Sementara di kantor, aku harus berusaha untuk terus fokus memikirkan masalah pekerjaan yang ditinggalkan mereka berlima.

Seumur-umur aku memimpin divisi ini, baru kali ini lah divisi ini begitu kekurangan orang dalam satu hari, saat ada 5 orang yang absen. Walau kelimanya memiliki alasan yang kuat untuk itu.

Aku terus meminta kabar kepada Oli, bagaimana keadaan disana. Karena diam disini itu rasanya sangat menyiksa sekali. Oli sempat menelepon ku untuk memberi kabar lokasi usaha penculikan adeknya Rangga. Dan aku pun segera menghubungi polisi untuk membantu mereka.

Tapi, setelah itu tidak ada lagi kabar yang masuk ke dalam ponselku ini, dan itu begitu menyiksa batin ku rasanya. Aku benar-benar panik dan senewen sekali dengan keadaan tidak berdaya seperti ini.

Mba…mba Liana? Aku terkejut mendengar panggilan Rika. Aku saat ini duduk di mejanya Oli, sedang menghandle pekerjaan semuanya. Dyana pun aku panggil untuk duduk bersama di sini.

Eh…iya Rik? Kenapa? Tanyaku kepada Rika yang terlihat kuatir.

Mba…gimana keadaan mereka sekarang mba? Tanya Rika terlihat kuatir. Dyana pun ternyata sama gelisahnya dengan diri ku ini. Dia sampai menggigit-gigit jari nya sambil bekerja.

Belum dapet kabar lagi nih Rik. Saya juga kuatir banget ama keadaan mereka semua. Haduuhhh…pusing saya. Jawabku.

Permisi mba… Ujar seseorang memanggil ku.

RANI?? Ujar kami bertiga hampir bersamaan, saat kami sedang melihat Rani yang sedang berdiri.

Kok? Kamu…ada disini? Katanya kemaren kamu sakit? Aku benar-benar speechless melihat Rani berada dihadapanku.

Lu uda sembuh Ran? Tanya Rika.

Mba…saya…ingin mengajukan surat pengunduran diri saya mba, secepatnya. Ujar Rani, tanpa menjawab pertanyaan Rika, yang bagaikan petir menyambar telinga kami bertiga.

Apa kamu bilang Ran? Aku tidak mempercayai pendengaran ku tadi.

Eh…lu kesambet apaan tiba-tiba mau resign aja? Ujar Rika.

Ran, kita ke ruangan saya sekarang. Ujar ku mengajak Rani untuk masuk ke dalam ruangan ku. Aku tahu pasti apa alasan Rani mengajukan surat pengunduran dirinya.

Apa karena Rangga dan Oli? Alasan kamu meminta resign? Tanya ku saat kami sudah berada di dalam ruangan ku.

Rani hanya terdiam saja mendengar pertanyaanku itu. Bener? Karena Rangga dan Oli, yang jadi alasan kamu minta resign? Ulangku menanyakan kepada Rani.

Bukan mba, saya…dipanggil orang tua saya untuk membantu usahanya di sana. Jawab Rani, tapi matanya terlihat hampa dan wajahnya pun pucat sekali.

Kamu…gak akan melakukan satu hal bodoh kan Ran? Karena masalah Rangga dan Oli ini? Tanyaku lagi.

Mba, boleh saya minta tolong satu hal ama mba? Tanya Rani tiba-tiba membuatku menaikan sebelah dahiku.

Tolong…jangan sebut-sebut masalah itu lagi ama saya mba. Bisa mba? Tanya Rani dengan tatapan mata datar dan tanpa ekspresi sama sekali. Ya ampun, ampe segitu sakitnya perasaan Rani ini. Yah pasti sakit banget sih emang.

Aku aja rasanya kecewa banget waktu pertama tau Rangga berhubungan intim dengan Cherllyne, juga pas Cherllyne mengatakan Rangga ikutan pesta seks bebas gitu. Ughh…rasanya aku benar-benar hancur semua waktu itu, kalo gak ada Cherllyne yang mencoba menjelaskan perasaan Rangga yang sebenarnya.

Aku hanya menatap wajah Rani. Aku merasa sangat kasihan dan bersimpati kepadanya. Kalo boleh dibilang, aku lah penyebab utama kesedihan Rani ini. Karena aku lah yang uda membantu merencanakan kencan Oli dan Rangga, hingga membuat mereka jadian secara resmi.

Rani…saya minta maaf ya ama kamu. Ujar ku menyadari semua ini karena kesalahanku, walau aku berniat baik, tapi ternyata ada satu orang yang menjadi sangat terluka akibat rencanaku menyatukan Rangga dengan Oli.

Iya gapapa mba. Saya cuma gak mau aja mendengar saya dihubung-hubungkan lagi dengan mereka berdua. Jawab Rani lagi. Masih tanpa ekspresi sama sekali.

Bukan itu. Saya…mao minta maaf sudah menjadi penyebab segala kesedihan dan sakit hati kamu Ran. Ujar ku benar-benar tulus memohon maaf kepadanya.

Hmm…maksud mba Liana? Tanya Rani terlihat sedikit bingung. Matanya terlihat hampa sekali aku lihat.

Saya…benar-benar gak tau, hubungan kamu ama Rangga, ternyata sudah sedekat itu, waktu itu. Kalau saya tau, tentu akan jadi pertimbangan saya. Rangga bisa jadian dengan Oli, hmm…karena sedikit banyak ada bantuan dari saya juga. Ujarku membuat nya terkejut.

Bantuan…apa maksudnya? Tanya Rani.

Yah saya saat itu membantu Oli, untuk mempersiapkan kencannya dengan Rangga. Saat itu, saya sangat mendukung Oli untuk jalan sama Rangga, karena menganggap mereka berdua adalah pasangan yang serasi. Saya…benar-benar tidak tau, kalo ternyata justru hubungan kamu dengan Rangga yang saat itu lebih dekat. Jelasku dengan perasaan bersalah. Dan di luar dugaan, Rani pun tetap tidak berekspresi.

Apakah menurut mba Liana, Rangga lebih serasi dengan Oli? Tanya Rani.

Bukan itu Ran. Saya benar-benar tidak menganggapnya seperti itu. Sama sekali gak. Saat itu, saya hanya berpikir Rangga begitu menyayangi Oli, dan juga sebaliknya, karena mereka adalah sahabat sejak kecil Ran. Saya benar-benar gak tau gimana perasaan kamu ke Rangga yang sesungguhnya Aku berusaha menjelaskan agar Rani tidak menjadi salah paham kepada ku, maupun Rangga dan Oli.

Kamu pun sangat serasi dengan Rangga, Rani sayang. Maafin aku ya Ran Aku benar-benar merasa sangat bersalah.

Yah semua gak perlu disesalin mba. Semua uda terjadi, dan mungkin ini takdir dari Yang Maha Kuasa buat saya mba. Dan kebetulan juga orang tua saya meminta saya untuk kembali. Makanya saya ingin mengajukan resign kepada mba Liana. Ujar Rani lagi tetap pada pendiriannya untuk resign.

Kamu…apa mungkin, suatu saat keputusan kamu akan berubah Ran? Tanyaku berusaha untuk menahannya.

Maaf mba, saya hanya punya waktu 2 minggu sebelum saya kembali mba. Selama 2 minggu itu, saya akan selesaikan pekerjaan dan tanggung jawab saya mba, baru saya akan keluar dari sini. Jawab Rani. Membuat ku semakin merasa bersalah.

Saya sih berharapnya kamu tetap di sini Ran. Saya benar-benar gak rela kamu keluar Ran. Ujarku lagi.

Mungkin menurut mba begitu, tapi saya harus pergi mba. Gak bisa saya tunda-tunda lagi Jawab Rani mantab tanpa ragu-ragu sama sekali.

Boleh…saya tanya satu hal mba? Tiba-tiba Rani bertanya sesuatu kepadaku.

Tanya apa Ran?

Kenapa mba? Kenapa mba Liana harus membantu Oli agar bisa kencan dengan Rangga. Apa sebenarnya maksud dan tujuan mba Liana mengurusi urusan seperti ini? Tanya Rani mengejutkanku. Apakah aku harus menjawab dengan kejujuran? Bahwa aku ada affair dengan Rangga, dan aku begitu mencintai Rangga.

Kenapa mba? Apa sih motif mba bantuin Oli? Rani terus mendesakku dengan pertanyaannya ini.

Aduh, gimana ya saya harus menjawabnya. Hmm…jelasnya yah, saya sayang ama kalian semua disini Ran. Dan…dan…… Aku benar-benar tidak bisa menjawab tanpa menyakiti perasaan Rani.

Aku berniat menyatukan Rangga dengan Oli, hanya untuk membuat Rangga mendapatkan pasangan yang serasi. Dan itu aku dapatkan dengan Olivia, yang merupakan sahabat sejak mereka kecil. Tapi apakah artinya Rangga tidak bisa bahagia dengan Rani? Aku benar-benar tidak menyadari akan Rani. Dan ini merupakan kesalahan ku yang terbesar.

Maafkan saya Ran. Saya…memang punya alasan untuk itu. Saya bisa aja menceritakan semuanya ke kamu. Tapi saya cuma takut kamu akan salah paham, dan semakin terluka nantinya. Ini memang merupakan kesalahan saya, yang tidak bisa melihat perasaan kamu, bawahan yang sudah saya anggap adik sendiri, begitu juga dengan yang lain, sehingga kamu akhirnya menjadi pihak yang paling tersakiti. Ujar ku.

Sementara Rani hanya terdiam saja mendengar penjelasanku. Aku yakin Rani masih tidak puas akan jawaban yang aku berikan ini, aku tau itu. Tapi dalam situasi seperti ini, rasa-rasanya, apapun yang aku katakan kepada Rani, pasti tidak akan di dengarnya.

Baiklah mba, kalo emang mba gak mao kasih tau alasannya, gak apa. Dan kalau begitu saya mao permisi pamit dulu mba. Besok saya akan segera selesain pekerjaan saya, hingga 2 minggu ke depan. Ujar Rani. Yang kemudian langsung berdiri dan keluar dari ruangan ku. Aduuhhh…gimana yah ngebenerin masalah Rani ini. Rangga sayang, apa yang harus aku katakan yah? Pikirku kalut. Mana aku masih belum dapat kabar tentang Rangga dan yang lainnya.

Karena saya mencintai Rangga, Ran. Ujar ku sambil memejamkan mataku. Rani berhak tau pikir ku. Walaupun ini seperti membuka aib ku sendiri, tapi ia berhak tau. Karena kalaupun aku yang berada di pihak Rani, aku pun ingin mendapatkan sebuah kejujuran.

Ucapan ku itu membuat Rani terhenti, saat akan membuka pintu ruangan ku. Namun ia tetap menghadap ke arah pintu.

Karena saya mencintai Rangga, dan begitu juga sebaliknya. Tapi saya sadar diri apa status saya. Walau pun rumah tangga saya berada di ujung kehancuran, tapi tetap saja tidak mengubah fakta bahwa saya istri orang lain. Itu lah alasan saya Ran. Karena saya ingin Rangga mendapatkan seorang pasangan yang…mm…sepadan dengannya. Dan saya minta maaf sekali sama kamu, Ran. Karena saya benar-benar tidak mengetahui kamu sedang dekat dengan Rangga saat itu. Kalo saya tau, tentu saja saya akan memiliki pertimbangan lain yang terbaik untuk kalian semua. Karena saya sayang kalian semua, dan saya ingin kalian semua bahagia. Jelasku dengan bibir bergetar.

jadi…seperti itu kah. Artinya…Rangga pun pada dasarnya memang menyetujui rencana mba Liana itu. Artinya memang dari awal itu lah keinginan Rangga. Yah Oli…emang sahabatnya dari kecil. Tentu saja Rangga akan memilih Oli, dibanding saya yang bukan siapa-siapa, dan gak berarti apa-apa baginya. Ucapan Rani benar-benar membuatku tertegun.

Saya yakin bukan seperti itu Ran, alasan Rangga yang sebenarnya. Aku berusaha mencegah persepsinya yang terlalu jauh tentang Rangga. Tapi…kalau aku di posisi Rani, bukan kah memang itu lah kesimpulan yang akan aku ambil? Karena aku pun sempat mengambil kesimpulan seperti itu, saat mengetahui hubungan Rangga dengan Cherllyne.

Terima kasih mba, atas penjelasannya. Ini…membuat saya semakin yakin bahwa langkah yang saya ambil ini merupakan jalan terbaik mba. Saya permisi mba. Ujar Rani langsung keluar, tanpa sempat aku cegah lagi. Dan aku pun segera keluar untuk terus mencoba membujuknya.

Di luar, Rika dan Dyana pun mencoba menahan Rani. Tapi dengan tegas Rani menolaknya dan tetap pada pendiriannya untuk mengundurkan diri dari kantor ini. Membuatku merasa sedih dan kehilangan sekali.

Hmm…Hari gak masuk Rik? Tanya Rani melihat bangku Hari kosong.

Itu dia Ran, disini lagi ada kejadian heboh tau. Si Hari kan ama si Edi lagi ikut buat bantuin Rangga ama Oli, lagi nolongin adeknya Rangga, yang katanya mao di culik. Kita orang lagi kuatir nih gimana keadaan mereka sekarang. Belum ada kabar lagi soalnya nih. Jawab Rika, sedikit membuat Rani terkejut. Aku mencoba melihat bagaimana reaksi Rani. Apakah akan menjadi kuatir juga kah?

Oh gitu. Ya uda semoga semua baik-baik aja deh. gw…balik…. Aku segera memotong ucapan Rani sebelum ia selesaiu mengucapkannya.

Ran…saya…boleh minta tolong ga ama kamu? Saya tau kamu lagi kurang sehat. Tapi kita benar-benar sedikit keteteran disini, meng-handle kerjaan Rangga, Edi, Hari ama Oli. Kamu, bisa ga bantuin kita sampe pulang kantor? Ujar ku memotong ucapan Rani. Kami memang benar-benar butuh bantuan nya. Lagian, aku juga rasanya ga mau membiarkan Rani sendirian di kosan nya. Sehingga aku mencoba untuk membuatnya tetap sibuk.

Iya nih Ran, plis dong bantuin kita Ujar Rika lagi, membuat Rani terlihat ragu-ragu. Rani rupanya juga tidak tega melihat kami pontang panting bertiga aja.

Ayolah Ran, bantuin kita sini yuk. Bujuk Dyana kali ini.

Haahh…dasar lu orang yah. Orang lagi gak enak badan juga. Ya udah sini deh gw bantuin. Jawab Rani, masih tanpa ekspresi sama sekali, benar-benar membuat ku kuatir.

Asiiiikkkk…gitu dong Ran Ujar Rika yang di amini oleh Dyana.

Aduuhh Rani…apa yang harus aku lakukan yah buat ngurangin beban hati kamu, biar kamu bisa ceria lagi seperti dulu? Apa aku konsultasi aja yah ama Cherllyne tentang masalah ini? Karena buat aku, malah menjadi beban tersendiri, melihat Rani seperti ini. Haahh. []

P.S. Maaf semuanya, ane mao kasih info dulu sebelumnya. Berhubung cerita ini masih berjalan dan stok chapter yang tersedia semakin menipis untuk daily update, sementara sayangnya, untuk bisa menyelesaikan 1 chapter berkualitas baik, dengan segala keterbatasan dan kekurang mampuan ane, ane butuh waktu paling cepat 2 hari. Dan agar nantinya tidak membuat para pembaca yang terhormat terlalu lama menanti update nya hingga timbul kerusuhan, maka mulai chapter ini, jadwal update akan ane rubah dan ane tentuin, yaitu di hari Senin, Rabu, dan jumat.

Dan untuk besok Rabu, dengan sangat terpaksa ane terpaksa off dulu, dan baru akan update pada hari jumat tgl 11 sep 15, dikarenakan sobat ane, si laptop kesayangan, lagi di rawat inap, mulai hari ini.

Update sekarang ini ane paksain pinjam kompi tetangga deh demi memberikan kabar info ini sekalian memberikan update sebelum hiatus sementara. Walaupun gak enak banget sebenarnya pinjam kompi ke rumah org malem2 gini. Tapi biarlah demi sobat2 semua drpd gak ada kabar sama sekali, jadi lebih kecewa lagi nantinya.

Mohon maaf yang sebesar-besarnya bila membuat kecewa semuanya, dan ane sangat memohon untuk pengertiannya yah

Author: 

Related Posts

Comments are closed.