Cerita Panas Dark Secret II : Revenge – Part 19

Cerita Panas Dark Secret II : Revenge – Part 19by on.Cerita Panas Dark Secret II : Revenge – Part 19Dark Secret II : Revenge – Part 19 Chap 4 Faint Part 7 ~ ~ ~ * * * ~ ~ ~”Eh, iya, masuk mas,” katanya sambil tersenyum malu. Kuikuti langkah Riana masuk kedalam kamar yang terlihat cukup megah. Ranjang berukuran jumbo berada ditengah kamar, sementara itu sebuah kamar mandi dan lemari berada disamping ranjang. […]

multixnxx-Milf, Black hair, Asian, Anal, Close up on-6 multixnxx-Milf, Black hair, Asian, Anal, Close up on-7Dark Secret II : Revenge – Part 19

Chap 4
Faint
Part 7

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~”Eh, iya, masuk mas,” katanya sambil tersenyum malu.

Kuikuti langkah Riana masuk kedalam kamar yang terlihat cukup megah. Ranjang berukuran jumbo berada ditengah kamar, sementara itu sebuah kamar mandi dan lemari berada disamping ranjang.

Kulihat Riana menghadap kearahku dan berkata dengan suara yang sedikit bergetar.

“Eh, mau langsung mulai mas?”

Kulihat wajahnya semakin memerah ketika mengatakan hal itu, wajah yang masih terlihat malu-malu.

Sejenak suasana menjadi canggung diantara kami. Malam semakin larut dan perlahan udara dalam kamar kami menjadi lebih dingin.

“Eh…”

“Mas…”

“Mas dulu,” katanya sambil menatap kearah lantai.

“Gimana kalau kita minum dulu?” usulku sambil menoleh kearah meja kecil disebelah ranjang yang berisi sebotol minuman keras, entah apa merknya tidak begitu jelas.

“Boleh mas,” sahutnya sambil melangkah pelan ke arah meja.

Langkahnya biasa, tidak menggoda…

Dengan langkah pelan aku duduk diranjang dan memperhatikannya yang membelakangiku.

Kupandangi tubuh bagian belakangnya, dengan menggunakan tank top hitam yang dibagian belakangnya ada renda kupu-kupu yang menempel ketat ditubuhnya, tercetak pinggul yang membulat dan pinggang yang ramping.

Celana jeans ketat yang membungkus paha yang putih disertai dengan bulatan pantat yang menonjol kebelang menambah indah tubuhnya itu.

“Minum mas,” kata seraya berbalik kearahku dan sedikit membungkuk memberikan segelas minuman yang tadi dituangkannya.

Wow!

Dua buah titik kecil tercetak jelas di bagian depan tank top yang dikenakannya!

“Mas… Minumnya,” seru Riana membuyarkan lamunan indahku.

“Eh iya, ” kataku sambil tersenyum pasrah, tau kalau Riana tau aku memandangi dadanya.

“Sini duduk, Rin” kataku sambil menepuk kasur disebelahku.

“Panggil aja Nia mas,” sahutnya sambil perlahan duduk disebelahku. Samar, harum bunga mawar tercium dari tubuhnya.

“Cheer, ” sahutku sambil mengangkat gelas dan meneguk minuman dalam gelas. Perlahan rasa panas mengalir melewati tenggorokan dan perlahan dadaku mulai terasa panas.

“Uhuk…uhuk…,maaf mas, uhuk…uhuk…,” kata Nia sambil menutupi mulutnya dengan tangan. Beberapa tetes minuman terciprat dari gelas yang bergetar. Kulihat mukanya merah padam.

“Pelan-pelan Nia, jangan dipaksa,” kataku sambil mendekatinya dan dengan tangan kananku yang bebas kuurut tengkuknya dengan pelan. Perlahan warna merah dimukanya sedikit berkurang. Kupandangi matanya dan ketika dia menatapku, kulihat pandangan malu dan rendah diri disana.

Seperti pandangan seorang prajurit yang kalah sebelum berangkat kemedan perang.

“Pelan-pelan aja minumnya, jangan sekali hirup kaya gitu,” kataku sambil menghirup aroma mawar yang membuat gairahku terusik.

Kulihat dia menganggukkan kepalanya, kemudian dengan pelan dia menghirup minuman dalam gelasnya itu. Tidak seperti tadi, dirinya tidak terbatuk ketika meminumnya walaupun bisa kulihat mukanya kembali memerah.

Dan bibirnya itu….

Drrtttttt….Drrrttttttt…Drrrrttttttt…..

“Mas HPnya…,” suara pelan Nia dan getaran di celana membuyarkan lamunanku.

Kuambil HPku dengan perasaan malas dan melihat nomer tak dikenal dilayar.

“Halo, selamat siang?” jawabku ragu.

Halo, selamat siang, dengan Mas Rangga?

Sebuah suara yang tak asing terdengar menjawab sapaanku.

“Iya, dengan saya sendiri, ini siapa ya?”

Ini Erlina mas, masih ingat? Yang akan kos di kos-kosannya mas?

“Oh Mbak Erlina, ada yang bisa saya bantu mas?” kataku sambil menekan tombol louspeaker di hanphone.

Gini, atasanku, Mbak Ratih, perlu sopir pribadi nih mas, kira-kira mas tertarik gak? Kalau tertarik, nanti masalah gaji dan yang lain kita bisa bicarain mas, gimana?

Sejenak aku memandang kearah Sisca dan Nia. Mereka menganggukan kepalanya tanda setuju atas tawaran Erlina.

“Hmmm… Oke deh mbak, kalau jadi kapan saya bisa ketempat mbak?” tanyaku lagi.

“Kalau mau sekarang juga bisa mas,” jawab Erlina.

“Oke mbak,” jawabku sambil menutup telepon dan saling pandang dengan Sisca dan Nia.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~
Seperti tak sadar aku mendekat kearahnya dan perlahan tanganku memeluknya.

Bisa kurasakan badan Kak Arka mengejang sesaat sebelum badannya melemah dan tangannya merengkuh pinggangku dan memelukku dengan erat.

Kupejamkan mataku sesaat dan seraut wajah muncul dalam hayalanku…

Aduh… Kenapa aku malah memikirkan dirinya???

“Eh maaf, Tri…,” kata Mas Arka sambil melepaskan pelukannya. Terlihat wajahnya masih memancarkan kesedihan yang dalam. Matanya terlihat memerah walaupun sekarang tak ada lagi air mata yang mengalir di pipinya.

Mungkin Mas Arka perlu waktu untuk sendiri….

“Mas, aku keluar dulu ya,” kataku dan tanpa mendengar persetujuannya kulangkahkan kakiku menuju kedepan. Kulewati kamar Mas Rangga dan tak sadar wajahku memerah mengenang kejadian waktu itu.

Tak sadar aku sampai diwarung Mas Paijo dan kulihat Mas Paijo dan istrinya berada disana.

“Eh Neng Putri, tumben kelihatan siang-siang?” tanya istri Mas Paijo sambil menoleh kearahku. Wajahnya yang keibuan terlihat berkeringat. Cuaca memang lumayan panas siang ini.

“Iya nih mbak, es nya satu ya mbak,” jawabku sambil menghempaskan pantatku ke kursi panjang yang tersedia disana.

“Eh…, bener kalau Karind meninggal ya Neng?” tanya Mas Paidjo dengan pelan-pelan.

“Iya mas,” jawabku singkat dan kurasakan kalau mas Paijo mau bertanya lebih lanjut tapi istrinya memberi isyarat.

“Ini es nya Neng,” kata istri Mas Paijo sambil memberikan segelas es campur kepadaku yang segera kuseruput dengan rakusnya.

Krriiiukkkkk….. Alamakkk….!

“Nasi campurnya satu mbak,” kataku dengan wajah memerah. Kulihat wajah geli dari Mas Paijo dan istrinya.

Tak berapa lama kemudian segelas es campur dan sepiring nasi campur telah masuk kedalam perutku. Perlahan pikiranku kembali fokus dan dengan pikiran yang segar aku mengirim sms kepada bossku.

TO : Boss
Message : Boss, putri mau meliput berita tewasnya pramugari di salah satu penerbangan pribadi itu sekarang. Thanks

Sambil menarik nafas panjang kuletakkan handphoneku dan berkonsentrasi mengenai kejadian yang menimpa sahabatku.

Darimana aku bisa memulainya?

Drrtttt…Drtttt…..

From : Boss
Message : Memang kapan kejadiannya? Maskapai apa? Jangan ngawur, tidak ada kejadian seperti itu!

Apa??

Aneh, biasanya berita seperti ini pasti tercium oleh media…

Kubuka beberapa sosmed di handphoneku dan anehnya, berita tentang Karind tidak ada!

Aneh, benar-benar aneh!
Ada sesuatu yang lain disini dan aku harus menemukan penyebabnya.

~ ~ ~ * * * ~ ~ ~

Author: 

Related Posts

Comments are closed.