Cerita Panas Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 16

Cerita Panas Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 16by on.Cerita Panas Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 16Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 16 Tetapi ternyata sampai beberapa waktu kemudian kami tidak bisa lagi bercinta di ruang kerja Vina. ——- Surprise Suatu sore dalam perjalanan pulang HP-ku berdering, kulihat di layar monitor, muncul nama Inge. Halo, Bu Inge, kataku setelah kuangkat HP-ku. Halo Anto. Kok pakai sebutan Bu […]

tumblr_nzs60nCG8o1uulx4so1_540 tumblr_nzs60nCG8o1uulx4so2_1280Kisah Tiga Wanita : Vina, Inge Dan Memey – Part 16

Tetapi ternyata sampai beberapa waktu kemudian kami tidak bisa lagi bercinta di ruang kerja Vina.

——-

Surprise

Suatu sore dalam perjalanan pulang HP-ku berdering, kulihat di layar monitor, muncul nama Inge.
Halo, Bu Inge, kataku setelah kuangkat HP-ku.
Halo Anto. Kok pakai sebutan Bu segala sih. Kan sudah kubilang enggak usah panggil Bu. Kalau mau panggil saja Inge sayang.., katanya sambil tertawa kecil. Terbayang di mataku sosok mungil Inge tetapi ganas dan liar dalam urusan bercinta.
Eh, udah lama enggak ada kabarnya. Dimana nih? tanyaku.
Iya. Lagi sibuk ngurus dana untuk buka usaha yang dulu pernah direncanakan, tapi kayaknya masih belum cair juga dalam waktu dekat ini. Gimana kabarnya?
Baik-baik saja. Kamu gimana?
Yah, baik juga. Kamu lagi di mana?
Lagi di jalan mau pulang, tapi mau mampir dulu di Toko Buku *** nyari bacaan.
Oh ya. Kalau gitu udah dulu ya. Bye! katanya menutup pembicaraan.
Ah, Inge..Inge. Kapan kamu ke sini lagi, aku sudah rindu menikmati tubuh mungilmu, pikirku.

Aku sampai di toko buku tujuanku. Sampai di rak buku-buku baru aku mencari-cari buku yang kuinginkan. Sekalian sambil melihat-lihat buku lainnya. Tiba-tiba kurasa ada yang mencubit pinggangku. Aku terkejut dan berbalik. Aku bertambah terkejut.
Lho… kok kamu ada di sini! kataku agak keras karena terlalu bergembira. Inge ada di depanku. Ia memakai celana jeans dengan kaus putih ketat. BH-nya yang berwarna merah membayang di balik kausnya dan mencetak bentuk payudaranya yang tidak terlalu besar, tetapi enak untuk dilihat dan tentu saja lebih enak lagi kalau diremas, dicium, dijilat dan dihisap. Kami bersalaman dengan erat.
Kok enggak kasih tahu ada di sini? tanyaku.
Sengaja, biar surprise. Ketika kutelepon tadi sebenarnya aku sudah mau bilang kalau ada di sini, tapi ketika kamu bilang mau ke toko buku ini kupikir biar saja kucari kamu di sini. Sekalian bikin kamu kaget, katanya.
Inge.. Inge. Aku memang sangat terkejut. Kalau aku jantungan bisa-bisa aku sudah jatuh.
Kalau mau jatuh, nanti saja jangan di sini. Entar juga kujatuhin kok. Mau?

Kuletakkan buku yang tadi kupegang. Urusan buku nomor sekian. Nomor satu sampai lima tentu saja Pancasila, nomor enam urusan Inge baru seterusnya kemudian nanti urusan buku. Kutarik tangannya ke luar dari toko buku. Aku tahu kemana Inge harus kubawa. Ia menatapku dengan mata bersinar-sinar penuh gairah. Tanpa berkata-kata lagi kubawa ia ke tempat parkir dan dengan semangat ia langsung membonceng motor Tiger-ku. Ia langsung memeluk pinggangku. Tanpa bertanya lagi aku langsung menuju ke sebuah hotel berbintang. Pasti ia menginap di hotel tersebut. Karena Inge diam saja dan tidak memberitahukan dimana ia menginap, maka kumasukkan saja motorku ke tempat parkir. Artinya benar ia menginap di hotel ini.

Ketika naik ke lantai tiga, di dalam lift hanya ada kami berdua dan sepasang pria dan wanita yang berpelukan mesra, maka Inge pun tak ragu-ragu lagi memeluk pinggangku. Sampai di dalam kamar, Inge langsung memelukku. Aku melepas sepatuku dan langsung menyambut pelukannya. Aku sudah membayangkan sebentar lagi akan terjadi pergulatan yang panas di atas ranjang.

Dalam posisi berdiri kucium bibir merah merekah itu. Dengan telapak tanganku, aku membelai wajahnya lembut. Matanya menatapku penuh arti. Kulihat Inge mulai gelisah, tetapi ia menikmati sentuhanku di wajahnya. Aku menundukkan wajahku mencari bibirnya. Sesaat kami berciuman. Bibirnya sangat hangat dan menggairahkan. Beberapa lama kemudian ciuman kami terlepas. Inge menyandarkan kepalanya ke dadaku.
“Aku merindukanmu..” bisiknya nyaris tak kudengar.

Kupegang dagunya dan kuangkat wajahnya. Inge menggerakkan bibirnya menciumku, menghisap bibirku, memasukkan lidahnya, menggigit kecil bibirku, dan akhirnya kamipun bercumbu dengan hasrat membara. Kami sama-sama kehausan. Dia membutuhkan belaianku dan aku juga membutuhkan kehangatan tubuhnya.

Aku segera mengangkatnya dan mendudukkan di atas meja. Dengan posisi ini aku akan lebih leluasa mencumbunya. Bibir kami saling melumat. Bergerak mengulum lincah saling berlomba memberikan kenikmatan. Tanganku bergerak ke arah payudaranya. Aku meraba payudaranya dari luar, memberi remasan ringan dan gerakan memutar yang membuat Inge menggelinjang. Perlahan aku menyusupkan tanganku ke balik pakaiannya menuju ke pungungnya melepas kait BH-nya. Kususupkan lagi tanganku di balik cup BH-nya. Payudaranya terasa pas di telapak tanganku, masih kencang dan sangat peka. Inge bergetar hebat saat aku meremas payudaranya.
“Hhh, enak To, teruskan….
Aku terus memberikan rangsangan pada payudaranya. Akhirnya hanya desahan nafasnya yang memburu yang menandakan birahinya telah bangkit dan minta dipuaskan. Kutarik kausnya ke atas dan kubuka lewat kepalanya. Lembut sekali kugesekkan telapak tanganku ke lengannya sambil melepaskan BH-nya. Payudaranya bebas tergantung dengan puting yang tegak keras berdiri ke depan.

Kini aku bebas mencumbu payudaranya. Lidahku bergerak bebas di sekitar payudaranya. Kujilat dan kuhisap puting payudaranya. Inge melenguh panjang. Kedua tangannya mencengkeram kepalaku. Bibirnya mencium leherku dan sesekali dia menggigit telingaku. Upffh, begitu enak dan nikmat. Payudaranya yang tidak terlalu besar terlihat indah sekali. Warnanya putih dengan puting yang juga tidak terlalu besar berwarna kecoklatan.

Aku bermain cukup lama di putingnya. Menggigit ringan, menyapukan lidahku, menghisapnya lembut sampai terasa keras sekali. Kadang kumisku kugesekkan di permukaan putingnya. Nafas Inge semakin memburu. Tentu saja untuk masalah nafas dan stamina, aku yakin lebih kuat darinya karena semenjak diajak oleh Vina aku rajin berolahraga untuk menjaga stamina. Tak lama tanganku menyusup ke balik celana jeansnya untuk mencari vaginanya dan membelainya dari luar. Kurasakan celana dalamnya telah lembab. Inge merenggangkan kakinya. Aku akan membuatnya semakin terangsang dan semakin mendekat ke permainan selanjutnya. Perlahan bibirku naik ke lehernya.
“Ergh,” kudengar lenguhannya.
Dengan gairah aku mencumbunya di leher. Bergerak ke tengkuk hingga membuatnya semakin erat memelukku dan mencumbu telinganya.
“Anto..” rintihnya.

Tanganku meraba dan mengusap punggungnya. Jariku melayang ringan dan membuat gerakan berputar-putar di permukaan punggungnya. Inge terlihat semakin bergairah.
“Kamu … pintar sekali membangkitkan gairah..” katanya terputus-putus. Nafasnya semakin memburu.
“Inge, kamu cantik dan seksi sekali. Aku sangat menginginkanmu, Ing. Aku ingin membawamu merasakan kenikmatan tertinggi bersamaku..” bisikku sambil terus mencium telinganya.
“Aku juga sangat menginginkanmu Anto….” jawab Inge.

Kubuka celana jeansnya dan tanganku kembali masuk ke balik celana dalamnya mencoba merangsang vaginanya. Kakinya semakin terbuka lebar. Aku berhasil memasukkan jariku dan menyentuh vaginanya.
“Aahh..” Inge semakin terangsang.
Kini aku sangat leluasa merangsang vaginanya. Jariku masuk menemukan klitoris, mengusapnya dan membuatnya makin hebat dilanda badai birahi.

Aku sangat tenang dalam melakukan cumbuanku. Aku teringat pola permainanku dengan Vina. Kali ini akan kucoba lakukan pada Inge. Inge semakin dilanda birahi. Tangannya kini tidak sabar melepas bajuku dan kancing celanaku lalu mencari penisku. Setelah menemukannya di balik celana dalamku, dia meremas dan mengocoknya. Kami sama-sama terbakar hebatnya api gairah nafsu. Perlahan aku menarik turun celana dalamnya sampai di betis tanpa melepasnya. Aku menatap matanya menunggu responnya. Mata Inge setengah tertutup. Dia sepertinya sangat kehausan dan pasrah menerima apa pun perbuatanku. Kakinya yang terjuntai digerak-gerakkannya sehingga celana dalamnya terlepas dari kakinya.

Pantatnya bergeser ke arah tepi meja. Kutarik celana dalamku ke bawah dan kukeluarkan penisku. Perlahan penisku mulai merapat ke arah selangkanganya. Inge menahan tubuhnya dengan kedua tangannya menopang ke belakang. payudaranya yang kecil terlihat membusung. Kuremas dan kuciumi payudara kecil nan indah. Kakinya bergerak naik ke atas pundakku. Kepala penisku sudah menggesek-gesek bibir vaginanya. Ia menggerakkan pantatnya menempatkan kepala penisku tepat di depan liang vaginanya. Pantatnya mendorong maju sehingga kepala penisku mulai masuk menembus liang vaginanya. Akupun mendorong pantatku maju perlahan. Aku merasakan kenikmatan yang dahsyat dari vaginanya yang sempit menjepit kepala penisku. Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana sedikit demi sedikit kepala penisku tertelan dalam liang kenimatannya dan disusul kemusian dengan batang penisku. Benar-benar nikmat melihat proses penetrasi penisku ke dalam vagina Inge mili demi mili.

Aku mulai melakukan bagianku. Mendorong masuk, menarik keluar, memutar, memompa kembali. Semuanya kulakukan dengan sangat perlahan. Inge mulai tidak sabar. Ia memegang pantatku dan mencoba untuk mempercepat gerakan pantatku, namun aku tetap bertahan untuk melakukannya perlahan. Aku merasakan kenikmatan bercinta yang luar biasa. Suara penisku yang mengocok vaginanya mulai terdengar. Aku mengerahkan segenap kekuatanku untuk menaklukkannya dan membawanya terbang mengarungi samudera kenikmatan.

Ketika kurasakan desakan kuat dalam batang penisku, aku berpikir harus menghentikan aksiku. Seolah tanpa sengaja kutarik pantatku jauh kebelakang sehingga penisku tercabut. Aku pura-pura berusaha untuk memasukkannya kembali, tetapi sengaja kubuat terpeleset. Inge menggeram seperti mau marah. Kusambut geramannya dengan kecupan di bibirnya dan aku dapat menenangkan diri sejenak. Kami berciuman lembut dan kuremas payudaranya. Aku tak mau birahi Inge surut. Setelah agak tenang aku kembali memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Ia menyambutnya dengan mengangkat pantatnya. Aku kembali menikmati permainan ini perlahan-lahan. Setiap gerakan meski perlahan tetapi aku lakukan dengan kekuatan penuh sehingga menghasilkan kenikmatan bagi Inge yang dikeluarkan melalui desahan dan rintihan.

Gelombang badai api birahi kembali membakar kami berdua. Keringat sudah bercucuran. Kami memang sedang melakukan olahraga paling nikmat dan paling berat dan menguras tenaga. Making love. Penisku mulai terasa agak panas ketika vaginanya semakin basah. Aku menahan nafas dan menghentikan kocokanku ketika kurasakan aliran kenikmatan mendesak-desak di dalam penisku. Aku mengencangkan otot perutku seperti menahan kencing, sehingga penisku tertarik ke atas dan membesar. Inge membalasnya dengan kontraksi otot vaginanya. Remasan dalam vaginanya tidak sekuat Vina, tetapi liang vaginanya memang lebih sempit. Inge justru semakin keras mendesah. Perlahan tapi pasti kami semakin dekat menuju puncak. Muka Inge semakin memerah. Wajahnya yang putih tampak sangat cantik ketika sedang dilanda birahi.
“Inge kamu cantik sekali.. Hebat dalam bercinta..” bisikku.
Lidahku kembali mencumbui payudaranya yang basah dengan keringat.
“Arg.., kamu juga.. Enak sekali, Anto..”.

Inge bolak-balik memejamkan mata, membuka mata dan menggigit bibirnya. Nafasnya tidak teratur, tersengal-sengal dan rambutnya semakin acak-acakan basah terkena keringat. Pemandangan yang indah dan menggairahkan melihat ekspresinya saat bercinta.

Dari gerakan tubuh Inge, aku yakin orgasmenya sudah semakin dekat. Pelukan tangan di pinggangku semakin erat dan mencoba menekan pinggangku ke arah tubuhnya. Gerakan pinggulku semakin cepat. Cengkeraman tangannya di punggungku terasa pedih terkena keringat. Giginya bergemeretak menahan nikmat. Dia tampak sekali berusaha untuk tidak menjerit.
“Agh.. Arrhhk.. Anto…Aku sudah ham.. pir..” rintihnya.
Tanganku meraih pinggulnya semakin merapat ke tubuhku. Penisku semakin gencar menghunjam vaginanya. Sodokanku semakin kuat dan temponya kupercepat. Aku akan bersama-sama mencapai orgasme dengan Inge
“Arghh.. Ya.. Terus.. Yah.. Sedikit lagi..” erang Inge agak tidak jelas.

Aku menjaga menjaga penisku agar tetap kuat untuk bergerak maju mundur melewati liang vaginanya yang sempit. Kurasakan penisku semakin panas. Aku juga sudah mendekati puncak. Aliran sperma di dalam slauran penisku sudah merambat naik siap menyembur. Gerakanku dan Inge semakin menyentak-nyentak. Beberapa saat kemudian aku merasakan tubuh Inge bergetar hebat. Pinggulnya menghentak-hentak dan tangannya mencengkeram punggungku sangat kuat. Dia memelukku sangat erat. Dari mulutnya keluar semacam raungan tertahan.
“Aargghh.. Sstt..”
Aku merasakan ada cairan hangat meleleh keluar. Tidak seberapa banyak tetapi membuat penisku semakin panas. Inge sudah orgasme sementara aku juga sudah semakin dekat. Inilah saatnya. Kuangkat tubuhnya dalam gendonganku. Tangannya menggelayut di leherku. Aku mempercepat kocokanku.
Crot..! Srrrrt…. Srr.. Srr..
Inge… Inge ..Ing..!
Oh Anto… sekarangghh .. kita sama-samahhh!.
Spermaku memancar kuat di dalam vaginanya. Penisku berdenyut dan dibalas dengan denyutan dari dinding vaginanya. Betisnya membelit kuat pinggangku. Ah.., nikmat sekali puncak kenikmatan yang kuraih. Dibandingkan dengan Vina, gaya bercinta Inge memang ekspresif, namun keduanya tetap memberikan kenikmatan dengan keistimewaan masing-masing.

Setelah mengenakan pakaian, kukatakan pada Inge bahwa aku harus pulang karena nanti malam ada jamuan makan malam dengan tamu dari Jakarta. Inge menahanku tetapi kukatakan aku tidak bisa meninggalkan acara itu karena sangat penting untuk serah terima proyek yang sedang dikerjakan dan menggolkan proyek baru. Akhirnya Inge melepaskanku tetapi dengan satu syarat nanti malam setelah selesai acara aku harus kembali menemaninya malam ini.

*****

Author: 

Related Posts

Comments are closed.