Cerita Panas Lamunan Di Beranda – Part 3

Cerita Panas Lamunan Di Beranda – Part 3by on.Cerita Panas Lamunan Di Beranda – Part 3[Fan Fiction] Lamunan Di Beranda (The Story About Jessie) – Part 3 Sekitar 5 menit mereka berpelukan dengan posisi Ve dibawah lalu kemudian Ve mulai membalikan tubuh Jimmy. Sekarang posisi bergantian Ve diatas. Dengan sedikit menyamping, lengan Jimmy dijadikan bantal yang memungkinkan Ve bisa membelai-belai dada Jimmy. Diraba-raba halus. Sambil bergumam, aku sudah puas, dia […]

tumblr_o0ekquD2L91t7zr18o1_540 tumblr_o0elmvlDym1u1kuneo1_540[Fan Fiction] Lamunan Di Beranda (The Story About Jessie) – Part 3

Sekitar 5 menit mereka berpelukan dengan posisi Ve dibawah lalu kemudian Ve mulai membalikan tubuh Jimmy. Sekarang posisi bergantian Ve diatas. Dengan sedikit menyamping, lengan Jimmy dijadikan bantal yang memungkinkan Ve bisa membelai-belai dada Jimmy. Diraba-raba halus. Sambil bergumam, aku sudah puas, dia berhasil membuatku orgasme, tak adil rasanya jika aku membiarkan dia penasaran. Aku tau sesuatu tegang mengeras sedari tadi dan minta diperlakukan secara khusus. Lalu Ve mulai menciumi dada Jimmy sambil tangannya meraih penis Jimmy yang masih tegang, keras bagai batang kayu. Dikecup-kecup saja hingga perutnya tapi segitupun sudah membuat Jimmy merasa kegelian. Bibir Ve yang mungil dan lembut mengecup-ngecup tubuhnya, sekejap-sekejap saja, tapi itu malah membuat Jimmy merinding, begidik geli. Tangan Ve semakin intens meremas-remas penis Jimmy yang makin mengeras. “Aaah Jessie, geli sayang..”, Jimmy semakin nyaman oleh kenakalan tangan Ve yang meremas halus-kencang, diaturnya sedemikian rupa sehingga Jimmy merasa makin merasa enak. Ah celana jeans nya menghalangi saja, gumam Ve. Segera setelah itu tangan Ve mulai membuka kancing lalu retsletingnya. Dengan hanya satu tangan saja, Jimmy pun bergumam, belajar dari mana ini cewek koq tangannya pinter amat ngebuka sarang ‘si dedek’. Lalu tiba-tiba tangan Ve sudah menelusup kedalam cd Jimmy saja, meraih penisnya, mengocok-ngocok perlahan. “Aduuhh Jessie.. aaahh”, Jimmy mulai keenakan diperlakukan begitu oleh Ve. Besar juga, dan keras, hmmm aku mesti membuatnya air maninya keluar, gumam Ve. Penis Jimmy yang semakin keras, kekar itu makin membuat Ve bernafsu untuk berbuat lebih jauh lagi. Lalu Ve bangkit, melepas celana jeans Jimmy, lalu ditanggalkan juga cd nya. Waaaw penis ini, tegang, keras, kokoh, menantang banget buat dilemesin biar pemiliknya senang, gumam Ve. Lalu Ve memposisikan dirinya hingga wajahnya berhadapan dengan penis Jimmy. Dikocok-kocok sambil diperhatiin dengan tatapan yang nakal. “Acchhh.. sshhh.. enak Jessie” Jimmy meracau keenakan. Diperhatikannya sejenak Ve yang sedang mengocok penisnya dengan tatapan nakal, lalu terpejam menikmatinya. Tanpa diduga Ve menciumi batang penis Jimmy. “Mmmmhhh..”, Ve seperti nemuin sesuatu yang selama ini dia rindukan, ia gemas, ia cium-ciumi batang penis Jimmy. Awas Jimmy, akan kubuat kontolmu mengeluarkan air mani dan lemas, gumam Ve.

Dengan tangan yang masih mengocok-ngocok batang penis Jimmy tiba-tiba mulut Ve mengulum ujung penis Jimmy. “Ooouchh.. ssshhh..”, Jimmy semakin tenggelam dalam rangsangan yang dilakukan Ve. Dihisap-hisapnya, dikecup, dikulum lagi. “Jess.. jangan berhenti sayang.. teruskan” rintih Jimmy. Ah semakin membesar, muat gak ya masuk sepenunya kedalam mulut aku, gumam Ve. Lalu Ve mencobanya, bleesss.. amblas semua. Ve merasakan mulutnya penuh dengan penis Jimmy hingga ke kerongkongan. Lalu mulai menghisap-hisapnya, maju mundur, bibirnya menggesek-gesek permukaan batang Jimmy. “Aaachh.. aaachh”, tapi suara desahan Jimmy malah membuat Ve semakin bersemangat. Hisapannya semakin kuat, tapi tidak sanggup mengamblaskan seluruh penis Jimmy. Dia menghisap sambil tangannya mengocok-ngocok setengah batang penis Jimmy yang mengarah ke testisnya. Ve senang memainkan penis Jimmy yang sedang tegang maksimal ini, dia gregetan. Lalu dijilatinya batangnya, lidahnya seperti nowel-nowel batang Jimmy. “Oouchh.. aachh.. ssshh” keruan saja Jimmy makin kegelian. Dirasakannya lidah Ve yang licin itu lincah mengulas-ngulas batang penisnya. Aduh Jessie, perlakukan saja kontolku semaumu, gumam Jimmy. Lidah Ve menjalari batang Jimmy dari ujung ke batas testis, bolak balik, dengan sesekali sambil dikocok-kocok. Gila Jessie, gak aku sangka kamu nakal sekali, batin Jimmy. Testisnya pun tak luput dijilati Ve, dihisap-hisap, ditarik dengan lembut sambil batangnya dikocok-kocok semakin cepat. Ve bernafsu sekali dengan penis Jimmy, dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, dia suka, dia senang melihat Jimmy mendesah dan terpejam keenakan. Ve ini ternyata pintar sekali memainkan penis, ketika Jimmy sudah tidak tahan lagi dan nyaris keluar, tiba-tiba dihentikannya. Setelah Jimmy sudah bisa mengatur nafas lagi lalu Ve kembali memainkan dengan intens. Entah bagaimana caranya Ve bisa menebak jika cowok ingin keluar, lalu memainkannya. Begitu terus berulang-ulang. Ah Jessie bajingan kamu, tapi tak apa karena aku suka disiksa begini, gumam Jimmy.

Sudah kira-kira 15 menit atau kurang Ve memainkan penis Jimmy. Aku harus mulai mengeluarkannya, lidah, mulut dan tanganku sudah mulai lelah, gumam Ve. “Enak sayang? aku keluarin yah?” kata Ve. Jimmy tak membalas, hanya mengiyakan dengan mengangguk saja. Dan Ve semakin kuat menghisap penis Jimmy sambil dikocok-kocok, semakin cepat. “Aaachh.. ssshh Jesieee”, Jimmy kian merasa keenakan, nikmatnya hampir mencapai puncak. Tapi tiba-tiba dia mendongakan wajah Ve dan bertanya, “Dikeluarkan dimana sayang?” Ve tidak menjawab, tidak peduli, lalu kembali berusaha membuat Jimmy ejakulasi. Ve semakin gemas ingin membuat Jimmy mengeluarkan air maninya. Dikocoknya cepat dan dihisapnya kuat penis Jimmy. Dan tidak lama setelah itu, “aaaachhhh.. aaachhh oouuchh.. aku keluar sayaaaangg.. ssshh”. Croott crooot creett.. Jimmy ejakulasi ketika penisnya masih berada dalam mulut Ve. Lantas Ve menguatkan hisapannya, ia mau semua air mani Jimmy bisa ditelan. Mmmmhhh banyak juga, kental dan hangat, gumam Ve. Dia melanjutkan kocokan dan hisapannya hingga air mani Jimmy habis dan tidak keluar lagi. Sesudah itu selama beberapa detik dia memandang Jimmy, dan tersenyum puas. Apa lagi ketika dilihatnya Jimmy masih mengatur nafasnya setelah terengah-engah mengalami kenikmatan puncak, senyumnya semakin lebar.

Ve yang selama ini dikenalnya sebagai wanita yang sedikit pemalu, feminim, tutur katanya halus, humble, murah senyum, ramah, pintar, tingkah laku dan gerak-geriknya tertata baik, ternyata bisa liar dan nakal juga seperti yang barusan dilihat dan dialaminya sendiri. Habis sudah anggapan lama Jimmy terhadap Ve selama ini. Tapi sedikitpun Jimmy tidak men-judge sesuatu terhadap Ve. Bukan, bukan itu. Yang jelas dia baru saja memetik pelajaran berharga, setidaknya untuk ukuran dirinya yang temasuk pemalu dan mungkin kuper terhadap wanita. Bahwa perilaku seks seorang wanita tidak bisa dinilai hanya berdasarkan tingkah laku dan pembawaannya sehari-hari.

Kini mereka berpelukan dalam keadaan berbaring, samping-sampingan. Saling mengecup dan mengumbar kata-kata sayang. Sampai akhirnya mereka tertidur, masih dalam keadaan telanjang. Terpancar senyum kepuasan di wajah mereka masing-masing. Diluar hujan gerimis belum berhenti juga.

TO BE CONTINUED..

Author: 

Related Posts

Comments are closed.