Cerita ngentot pengalaman ngewe nikmat di panti pijat

Cerita ngentot pengalaman ngewe nikmat di panti pijatby on.Cerita ngentot pengalaman ngewe nikmat di panti pijatCerita ngentot pengalaman ngewe nikmat di panti pijat,  pengalaman seorang cewek seksi yang menjadi terapis panti pijat dan melayani seks mesum pelanggannya. Anggia pun terkulai lemas setelah memijat, dirinya langsung melayani seks mesum pelanggannya itu karena berbagai pertimbangan. Cerita ini menjadi bagian dari pengalaman setiap pemijat cewek yang bekerja di sebuah panti pijat. Cerita dewasa selengkapnya dapat anda lihat dibawah. Dengan modal tubuh seksinya, […]

Cerita ngentot pengalaman ngewe nikmat di panti pijat,  pengalaman seorang cewek seksi yang menjadi terapis panti pijat dan melayani seks mesum pelanggannya. Anggia pun terkulai lemas setelah memijat, dirinya langsung melayani seks mesum pelanggannya itu karena berbagai pertimbangan. Cerita ini menjadi bagian dari pengalaman setiap pemijat cewek yang bekerja di sebuah panti pijat. Cerita dewasa selengkapnya dapat anda lihat dibawah.

Dengan modal tubuh seksinya, cewek seksi ini terus menggoda para pelanggan untuk berbuat mesum, karena harapannya biasanya berhubungan dengan uang. Hal tersebut telah menjadi rutinitas bagi cewek pekerja dipanti pijat. Adegan seks mesum terus menjadi aktivitas tiada henti bagi kedua belah pihak. Seks mesum pun adalah cerita yang sangat membuat nafsu birahi semua orang bangkit. Berikut cerita dewasa selengkapnya.

Pada suatu hari Kamis tahun 2003, saya sedang dipijit oleh Anggia. Kebetulan hari Senin adalah hari libur, maka iseng-iseng saya ajak Anggia untuk minta dipijit ekstra.

“Pijit ekstra dimana?” tanya Anggia.
“Kemana ya? Keluar kota aja tapi jangan jauh-jauh” sahut saya.
“Terserah kamu yang punya uang” jawab Anggia.
“Ke Bogor aja yuk, di Novotel”
“Boleh aja”

Anggia yang berkulit putih, tingginya 168 cm mempunyai wajah yang manis. Walaupun wajahnya tidak seayu Zahra tetapi ia memiliki daya tarik tersendiri. Gaya pijatnya pun enak dan tidak mengecewakan. Anggia akhirnya sepakat untuk ber-long weekend di Bogor. Sebelum selesai memijit, kami berjanjian untuk bertemu di satu tempat pada hari Sabtu siang sebelum ke Bogor.

Hari Sabtu siang, saya menjemput Anggia di Plaza Senayan. Anggia membawa tas berukuran kecil, ia mengenakan kemeja warna putih dan celana jeans.

“Enggak bawa baju? Kan nginap 2 malam” tanya saya.
“Bawa baju kok, tapi untuk apa bawa banyak-banyak kalau toh nggak dipakai?” jawab Anggia dengan senyuman nakal.

Kami langsung berangkat ke Bogor menuju Hotel Novotel. Setiba di hotel, kami check in. Saya meminta kamar yang ada jacuzzi. Kamar ini cukup luas dan ada jacuzzi yang menghadap ke balkon tetapi didepan balkon itu ditanam dengan pohon-pohon yang berdaun lebar sehingga orang dari luar tidak bisa melihat ke dalam kamar.

Begitu tiba di kamar, saya minta room service untuk menyalakan jacuzzi. Setelah selesai, room service keluar dari kamar. Anggia sedang asyik nonton TV Infotainment. Tanpa basa-basi, saya langsung menyerang Anggia dengan ciuman di pipi dan bibir. Anggia sedikit kaget tetapi ia langsung membalas ciumanku. Payudaranya saya remas dari balik kemejanya. Perlahan jari-jari saya membuka kancing baju Anggia dan kemudian dilanjutkan dengan membuka BH. Masih dalam posisi ciuman, saya membuka celana jeans Anggia dan menariknya kebawah. Anggia praktis sudah telanjang dada dan hanya mengenakan celana dalam mini warna merah tua.

“Curang, saya udah telanjang tapi kamu belum” protes Anggia.

Anggia langsung membuka baju kaos dan celana jeans plus celana dalam. Ia sempat tertegun melihat kontolku tapi kemudian langsung ia hisap. Saya rebahan ditempat tidur tapi kaki saya terjuntai kebawah, sedangkan Anggia berlutut disamping tidur sambil menghisap kontolku.

“Umm.. Enak, gede banget Somad” gumam Anggia.

Anggia menghisap kontolku selama beberapa menit, setelah puas saya menarik Anggia ke Jacuzzi. Anggia membuka celana dalamnya sehingga ia telanjang bulat. Bulu kemaluannya ia cukur habis sehingga bibir vaginanya bisa terlihat dengan jelas. Di Sofa kami kembali berciuman. Payudaranya tak henti-hentinya saya remas dan jari jemariku juga ikut memainkan klitoris Anggia. Anggia hanya pasrah menerima serangan dari tangan-tangan saya ditubuhnya.

4

Kemudian saya angkat tubuh Anggia dan mendudukkannya di tepi Sofa. Anggia merentangkan kakinya sambil bersandar di dinding. Vaginanya langsung saya jilat, tak luput dari jilatanku adalah daerah anus dan selangkangannya. Anggia sampai menggelinjang kegelian.

Puas menikmati vaginanya, saya membalikkan tubuh Anggia dan minta nungging. Pantat Anggia yang besar saya jilat dari belakang lalu belahan pantatnya saya buka. Anusnya terlihat menggairahkan dan menantang. Kembali saya jilat anus Anggia. Tak henti-hentinya Anggia berseru dengan nikmat menikmati lidah saya di anusnya.

“Aduh, masukan Somad, entotin saya sekarang” pinta Anggia.

Tanpa diminta kedua kalinya, saya mengarahkan kontolku ke vagina Anggia. Anggia langsung melenguh dengan kencang tiap kali kontol saya dibenamkan ke vaginanya. Tangan Anggia mencengkeram tepi Sofa sementara tangan saya meremas pantat Anggia dengan gemas. Air hangat dari Sofa membuat tubuh kami berdua berkeringat. Tampaknya Anggia tipe wanita yang vaginanya banyak mengeluarkan cairan karena terdengar clipak-clipuk setiap kali kontol saya keluar-masuk vaginanya. Beberapa menit kemudian saya merasakan akan ejakulasi

“Mau keluar nih” seru saya.

5

Anggia langsung membalikkan badannya dan meraih kontolku kemudian menghisapnya. Peju saya muncrat dengan deras di mulut Anggia. Anggia sempat sedikit gelagapan karena tak sangka peju saya akan sedemikian banyak tetapi ia terus menghisap dan menelan semua peju. Setelah bersih, kami duduk berpelukan di Sofa sambil ciuman.

Jam 5 sore, saya mengajak Anggia untuk berenang. Anggia mengenakan pakaian renang model bikini berwarna biru cerah. Di kolam renang, beberapa tamu pria melirik ke Anggia dan memperhatikan bikini Anggia yang kelihatannya kekecilan dibandingkan dengan ukuran payudaranya. Tetapi si Anggia kelihatannya cuek saja melihat para tamu pria tersebut dan ia langsung nyemplung ke kolam. Saya juga ikut nyemplung.

20 menit kemudian setelah selesai berenang, kami keluar dari kolam dan duduk dipinggir kolam sambil menikmati juice. Tiba-tiba ada yang memanggil Anggia.

“Woi, Anggia!”

Anggia menengok dan tertawa.

“Eh, ngapain loe disini?” tanya Anggia.
“Lagi temenin keponakan berenang” kata si perempuan.
“Eh iya, kenalin ini temen saya” kata Anggia.
“Halo, saya Somad”
“Saya Dian” kata Dian.

Dian wajahnya sangat mirip dengan artis Titi Kamal. Rambutnya panjang, tingginya 165, tubuhnya langsing dan dibalik kaos putihnya yang ketat terlihat payudaranya yang lumayan besar. Rupanya Dian adalah teman kost Anggia.

“Lagi nginap disini?” tanya Dian.
“Iya, mumpung lagi long weekend” jawab Anggia.

Saya membiarkan kedua perempuan itu ngobrol dan saya melanjutkan berenang. Sambil berenang, saya melihat si Dian masih ngobrol dengan Anggia tapi matanya terus tertuju pada saya. Saya pikir boleh juga nih Dian di prospek. Tak lama kemudian, Anggia kembali berenang sedangkan Dian sudah pergi.

Selesai berenang, kami kembali ke kamar lalu mandi. Di kamar mandi kembali kami bersetubuh. Selesai mandi, kami turun ke restaurant untuk makan malam.

“Si Dian nanyain kamu tuh” kata Anggia.
“Nanyain apa?” tanya saya.
“Dia bilang body elo OK banget” kata Anggia.
“Hehehe, body Dian juga OK” kata saya.

Anggia bercerita tentang Dian. Ternyata Dian adalah seorang penari striptis di Klub 1001 di kawasan Gajah Mada. Saya tidak tahu apakah di Klub 1001 ia dikenal sebagai Dian atau ia punya nama samaran lainnya.

“Wah boleh nih minta dia nari” kata saya.
“Mau nih? Dia mau loh kalau diajak gabung” kata Anggia.
“Oya? Boleh aja. Kapan? Malam ini?” jawab saya dengan penuh minat
“Malam ini dia kerja. Besok siang kalau mau”
“Boleh. Telepon aja minta gabung dengan kita besok siang”

Anggia langsung menelepon Dian.

“Sip, besok jam 11 dia udah disini” kata Anggia

Selesai makan malam, kita jalan-jalan ke Bogor lalu ke Puncak. Jam 23:00 kita kembali ke hotel. Malam itu kita agak capek sehingga tidak ada gairah untuk bersetubuh walaupun demikian Anggia tidur tidak mengenakan apa-apa begitu juga dengan saya.

Hari Minggu pagi jam 8:00, kita bangun kemudian langsung mengenakan pakaian renang dan kembali berenang. Selesai berenang, kita mandi terlebih dahulu kemudian sarapan dan duduk-duduk di coffee shop sambil menunggu Dian. Jam 11 tepat si Dian sudah muncul. Ia mengenakan rok mini warna merah, kaos ketat tanpa lengan warna putih dan sepatu tennis warna putih. Beberapa tamu pria yang sedang duduk-duduk di coffee shop langsung memperhatikan Dian dengan muka horny.

Anggia melambaikan tangannya dan Dian langsung melihat ke arah kita. Kita bertiga masih ngobrol-ngobrol sebentar di coffee shop sampai akhirnya Anggia mengajak balik ke kamar. Sambil berjalan melewati tamu-tamu pria di coffee shop, saya dengan iseng melingkarkan tanganku ke pundak Anggia dan Dian. Sudah persis seperti raja Arab dengan selir-selirnya.

Setiba di kamar, saya langsung duduk di tempat tidur sedangkan Anggia rebahan ditempat tidur sambil mengganti channel TV.

“Dian jago nari kan? Sekarang saya minta Dian striptis dulu didepan kita” kata saya.
“Ah, masa disuruh nari? Jangan dong” protes Dian.
“Harus mau dong” kata saya sambil mengambil remote control dari tangan Anggia lalu mengganti channel. Saya menemukan channel MTV yang sedang menyiarkan video klip lagu Heavy Metal. Pas untuk nari striptis!
“Nah, ini ada yang pas untuk nari. Ayo mulai” kata saya.

Dian tersenyum. Ia membuka sepatu dan kaos kakinya. Dian kemudian berdiri dihadapanku dan mulai meliukkan tubuhnya. Tangan kanannya ia angkat ke rambut lalu rambutnya yang panjang digulung keatas kepala, sementara tangan kirinya meremas-remas payudaranya. Setelah meremas payudara, tangan kirinya turun ke pahanya lalu rok mininya diangkat sehingga terlihat celana dalam g-string warna hitam berenda. Jari jemarinya mengusap-usap vaginanya dari balik celana dalam. Dian memejamkan matanya sambil menggigit bibir bawahnya. Wajahnya sungguh erotis!

Dian terus meliukkan tubuhnya mengikuti irama lagu heavy metal. Sekali-sekali roknya ia angkat tinggi mempertontonkan kakinya yang putih dan panjang. Kemudian ia mulai melepaskan kaosnya. BHnya yang berwarna hitam berenda turut ia lepas juga. Payudaranya yang besar saya taksir berukuran 36C. Sambil menonton, Anggia beringsut kebelakang saya dan mulai membuka kaos saya. Kemudian Anggia jongkok didepanku dan membuka celana pendekku. Saya duduk ditepi tempat tidur dengan hanya mengenakan celana dalam. Sedangkan Anggia sendiri sudah telanjang bulat. Entah kapan ia membuka bajunya.

Dian membuka risleting rok mininya dan langsung rok mininya merosot melewati sela kakinya. Saya rasa g-string yang dikenakan Dian adalah g-string tertipis yang pernah saya lihat. Kain yang menutupi daerah vaginanya saya rasa hanya berukuran 10 x 10 cm, selebihnya semuanya hanya tali nilon yang melilit dipinggang dan turun ke belahan pantatnya. She is really a professional stripper! Berkali-kali saya menelan ludah melihat tubuh Dian yang sensual. Dibandingkan Anggia, Dian masih jauh lebih sensual dan erotis. Pokoknya kalau mau membayangkan Dian, silakan lihat Titi Kamal. Dian menghampiri saya kemudian memutar tubuhnya sehingga ia membelakangi saya.

Pantatnya dengan gaya memutar-mutar ia naik turunkan didepan muka saya, kemudian Dian duduk dipangkuan saya. Pantatnya tak henti-hentinya ia putar diatas kontolku seakan-akan sedang bersetubuh. Kontolku terasa seperti mau meledak mendapat perlakuan seperti itu. Ingin rasanya langsung saya setubuhi. Dian lalu berdiri dan meminta Anggia membuka celana dalam saya. Setelah celana dalam saya dibuka Anggia, Dian mendorong dada saya lalu saya merebahkan diri ke kasur. Dian jongkok dihadapanku. Ia menjilat dengkul kanan lalu naik ke paha hingga pangkal paha, turun ke selangkangan dan menjilat bijiku. Anggia turut merangsang saya dengan cara menghisap puting saya. Setelah puas Dian menjilat bijiku, Dian menjilat kepala kontolku dan mulai menghisapnya.

“Oh yes, enak sekali Dian, hisap terus yang keras” ujar saya keenakan.

Entah kenapa saya rasanya ingin cepat ejakulasi saat sedang dihisap Dian, tetapi saya langsung menahan diri agar tidak keluar. Dian lalu berdiri dan kembali menjilat perut, ke dada lalu mencium bibirku. Kita saling berpagutan selama beberapa menit. Saya merasakan kontol saya dihisap oleh Anggia. Dian lalu membalikkan tubuhnya dan kita berada dalam posisi 69. Celana dalam g-string super mini itu langsung saya tarik kebawah dan vaginanya saya jilat dengan penuh nafsu. Dian sendiri kembali menghisap kontolku. Tak henti-hentinya saya dan Dian mengeluarkan suara mendesis menikmati hisapan dan jilatan. Anggia rupanya tidak mau kalah, ia jongkok didepanku dan ia menjilat bijiku.

Kembali saya merasakan mau ejakulasi tapi langsung saya tahan. Saya membalikkan tubuh Dian dan tanpa nunggu diperintah, langsung saya hujamkan kontolku ke vaginanya dalam posisi doggy style. Dian mengerang dengan penuh nikmat. Payudaranya yang besar tampak menggelantung dan dengan gemas saya meremas-remas payudara Dian. Kembali Anggia mengambil posisi untuk membuat saya bertambah nikmat. Ia duduk dibelakang saya sambil memegang sebotol baby oil. Tangannya ia lumasi dengan baby oil lalu ia menyelinapkan tangannya diantara selangkanganku. Dengan sedikit heran saya melihat Anggia dan bertanya dalam hati. Tanpa ditanya, Anggia mulai memainkan biji saya. Tangannya naik turun mulai dari belahan pantat turun ke biji lalu diremas kemudian diulang terus berkali-kali. Apabila saudara sedang three-some, cobalah minta si partner wanita untuk melakukan itu bagi anda. Nikmat sekali!

Dian bagaikan kuda liar. Dengan penuh semangat, ia mengikuti gerakan tubuhku dan kadang kala ia sendiri yang menghentakan pinggulnya ke pinggulku. 10 menit menggenjot Dian membuat saya berkeringat. Saya berhenti sejenak. Saya keluarkan kontolku dari vaginanya. Dian merebahkan tubuhku dan ia langsung naik ke atas pinggulku dan memasukkan kontolku ke vaginanya. Tanpa mengenal lelah, Dian terus menerus menggenjot kontolku dalam vaginanya. Anggia lalu jongkok diperutku kemudian mencondongkan dadanya ke mulutku sehingga ia berada dalam posisi bersimpuh diatas perutku sedangkan Dian masih asyik mengocok kontolku. Saya langsung menerkam payudara Anggia dan menghisap putingnya. Saya meraih tangan Dian dan mengarahkannya ke payudara Anggia, tetapi Dian dengan halus menarik kembali tangannya dari payudara Anggia.

“Saya dan Dian bukan Bi-seks” bisik Anggia.

5 menit berlalu dan akhirnya saya ejakulasi. Saya muntahkan seluruh pejuku di vagina Dian. Dian berkali-kali berteriak “yes, yes”. Tubuhnya mengejang dan matanya terpejam. Ada sekitar 1 menit Dian dalam posisi jongkok di pinggulku dan matanya masih terpejam. Kelihatannya ia masih menikmati sisa-sisa birahi yang baru ia rasakan. Setelah itu ia membuka matanya, ia tersenyum melihat Anggia yang sudah berbaring disamping saya.

“Gila, enak banget. Anggia ternyata tidak berlebihan waktu kemarin sore di pinggir kolam dia cerita ngentot sama kamu rasanya puas banget” kata Dian setengah mendesah.

Dian turun dari pinggulku lalu berbaring disebelah kiriku. Kita bertiga beristirahat dan kemudian kembali bersetubuh. Anggia kembali saya setubuhi disaksikan oleh Dian sambil ia menikmati kue coklat. Sorenya setelah kita bertiga berenang, saya menyetubuhi Dian di kamar mandi. Lalu jam 8 malam setelah makan malam, kita bertiga berinisiatif melakukan sesuatu yang lebih menantang. Saya menyetubuhi Dian didekat tempat volley yang ditutupi oleh pohon yang rimbun. Anggia sendiri mendapat giliran jaga pertama. Setelah puas menggenjot Dian, Dian mendapat tugas jaga sementara saya menyetubuhi Anggia. Bersetubuh seperti ini sangat asyik karena dilakukan dengan penuh waspada jangan sampai tertangkap.

Author: 

Related Posts

Comments are closed.