Ibu kos alim dan anaknya

Ibu kos alim dan anaknyaby masbroon.Ibu kos alim dan anaknyaNamaku Randu, aku baru lulus kuliah, tapi ijazah S1 itu tidak berarti apa-apa karena tidak ada satu perusahaanpun yg mau menerimaku bekerja. Untuk mencari uang sekedar untuk membeli rokok dan ganja akhirnya aku ikut Kang Aep jadi tukang parkir di sebuah minimarket di Bandung di daerah dago atas. Sudah lama aku tidak pulang ke rumahku […]
 cerita dewasa

cerita dewasa

Namaku Randu, aku baru lulus kuliah, tapi ijazah S1 itu tidak berarti apa-apa karena tidak ada satu perusahaanpun yg mau menerimaku bekerja. Untuk mencari uang sekedar untuk membeli rokok dan ganja akhirnya aku ikut Kang Aep jadi tukang parkir di sebuah minimarket di Bandung di daerah dago atas. Sudah lama aku tidak pulang ke rumahku di Cianjur, mungkin karena aku malu oleh para tetangga dan teman disana yang slalu menanyakan status pekerjaanku, masak aku harus bilang aku hanya tukang parkir, Bisa sedih ibuku kalau mendengarnya. Aku masih ngekost ditempat yang sama dari saat aku masih kuliah, alasannya sederhana, karena ibu kos ku, Bu Nina, tidak meminta bayaran kepadaku dengan syarat tiap pagi aku harus mengantarkannya ke pasar untuk membeli barang-barang dagangan, karena Bu Nina berjualan sembako dibekas garasi di rumahnya yang dirubah menjadi sebuah warung kecil. Rumahnya cukup besar, dulu almarhum suaminya adalah direktur disebuah perusahaan swasta, tapi 10 tahun yang lalu suaminya meninggal karena kecelakaan.

Paviliun rumahnya yang memiliki 3 kamar di sewakannya menjadi kos-kosan, selain aku ada satu orang lagi yang kos disini, Namanya Ratna, aku memanggilnya Teteh karena dia 5 tahun lebih tua dariku, orangnya hitam manis, dia memiliki lekukan tubuh yang indah, pinggangnya yang seperti biola itu bersanding dengan payudaranya yang cukup besar, dan yang paling aku gak tahan adalah pantatnya yang besar dan bulat, yang sering bikin aku konak setiap dia berjalan di depanku. Ini juga sih alasan kuat yg membuatku betah nge kos disini. Ada satu kamar yang masih kosong, bukan berarti tidak ada yang mau ngekos disini, tapi Bu Nina sangat selektif dalam menerima calon penghuni kosan, Aku diterimanya disini karena beliau adalah teman ibuku, beliau juga dulu asli orang Cianjur yang pindah ke Bandung saat menikah dengan suaminya. Dari pernikahan itu Bu Nina dikaruniai dua orang anak, anak laki2nya yang sulung sudah bekerja di Jakarta, sementara anak perempuannya masih sekolah di SMP kelas 3. Namanya Zahra anaknya manis sekali, sehari-hari kalau keluar rumah selalu menggunakan jilbab, memang keluarga Bu Nina adalah keluarga yang agamis, Bu Nina juga rutin menjadi guru ngaji di mesjid di dekat rumahnya. Zahra sangat manja sekali padaku karena sejak dia kecil dia sudah mengenalku, dan menganggapku kakaknya sendiri. Hubunganku dengan Bu Nina pun semakin dekat semenjak anak lelakinya bekerja di Jakarta, dan hanya pulang sebulan sekali, itupun sekarang tidak tentu, terkadang 3 bulan baru dia pulang.

Hari Minggu pagi aku dibangunkan oleh suara ketokan di pintu, A..aa, suara zahra memanggilku, aku yang masih sangat mengantuk dengan malas menuju pintu. Kubuka pintu dan kulihat Zahra mukanya merah. Mulutnya sedikit terbuka dan matanya menatap kearah perutku, reflek aku pun mengikuti arah matanya dan baru tersadar bahwa aku hanya memakai celana dalam dan disana tercetak penisku yang ereksi penuh. Buru buru aku menutupinya dengan tangan. Ehh..Zahra.. ada apa? Tanyaku sambil beringsut kebelakang dan mengambil sarung dan memakainya, Zahra belum menjawab, matanya menatap kebawah dan seperti masih shock karena kejadian tadi. Ada apa sayang… Sorry Aa baru bangun tadi dan lupa kalau Aa tidur memang hanya pake kolor doang, jadinya tadi kamu dapet rejeki deh, aku akhirnya berusaha mencairkan suasana sambil flirting. Entah kenapa pagi ini Zahra tampak begitu cantik, kepolosan wajahnya membuat penisku rasanya semakin keras, Oh..gila… Seperti kerasukan, pikiranku rasanya ingin menarik Zahra kedalam kamarku dan menindih tubuh mungilnya itu. Ku lihat payudaranya yg masih mungil dibalik kaos tanpa bra itu, penasaran rasanya ingin melihat seperti apa puting gadis SMP ini. Zahra melihat kearahku dengan mulut sedikit ternganga, mungkin secara tidak sadar dia merasakan ada sesuatu yang asing dari caraku menatapnya. Segera kubuang semua pikiran kotor itu, lalu kutanyakan lagi maksud Zahra memanggilku. Aa dipanggil Mamah, katanya Mamah sakit. Mendengar itu aku segera berganti pakaian, Zahra sudah terlebih dulu masuk ke kamar Bu Nina. Tak lama aku masuk ke kamar dan melihat Bu Nina sedang berbaring dan Zahra sedang memijati keningnya. Dia tetap saja mengenakan jilbab meskipun berada di kamarnya,mungkin karena tahu akan ada aku. Ibu sakit? Tanyaku sambil duduk dipinggir tempat tidur. Iya nih A, tadi habis sholat subuh tiba2 kepala Ibu pusing, sudah minum obat tapi pening dan mualnya masih terasa, kayanya hari ini ibu gak bisa ikut kamu ke pasar, kamu bisa kan belanja sendiri. Udah ibu gak usah mikirin hal itu, biar nanti Randu yang belanja bu. Bu Nina tersenyum padaku mendengar itu, di usianya yang 40 an itu Bu Nina masih terlihat cantik, hidungnya mancung dan matanya selalu tampak sayu, tubuhnya yang gemuk sebanding dengan payudaranya yang besar, dan pantatnya menurutku sangatlah indah, besar tapi bulat sempurna, sering aku mengintipnya saat dia sedang mandi jika ada kesempatan, meski hanya terlihat sedikit dari celah kunci pintu, tapi aku bisa menyatukan potongan-potongan imej itu menjadi suatu kesatuan yang utuh, tubuhnya yang gemuk, payudaranya yang montok, putingnya yang besar berwarna coklat kehitaman begitu menantang untuk dihisap. Pantatnya yang indah sering kujadikan khayalan saat onani, pantatnya teramat besar dan bulat, kesemua itu tampak semakin merangsang dengan bulu jembut yang hitam dan subur menutupi area vaginanya menangkup penuh kedepan. Kesemuanya itu merekat pada kulitnya yang putih dan bening, sehingga urat urat halus berwarna hijau di payudaranya bisa terlihat jelas transparan.

Kenapa kok malah melamun sih A? Bu Nina mengejutkan ku, dan aku tertawa.. nggak bu, itu.. tadi kepikiran kalo aku nanti punya istri , ingin yang seperti ibu, yang mau melakukan apapun demi keluarga. Bu Nina tersenyum dan matanya berkaca-kaca mungkin dia terharu mendengar perkataanku. Kamu baik Randu, pasti nanti akan ada perempuan yang sholeh yang akan menjadi istrimu. Aku menghela nafas, dengan status ku yang gak jelas gini mana ada cewek yg mau… Batinku bicara.

Hari itu setelah belanja ke pasar dan merapikan barang di warung aku berangkat ke tempat parkiran. Ran…Randu… Kamana wae ari sia, di dagoan ti jam 10 teu datang keneh, Kang Aep langsung memarahi ku yang baru datang ke parkiran, aku baru ingat hari ini Kang Aep mau ke ondangan temannya dan aku berjanji untuk menggantikannya menjaga parkiran. Aduh.. hampura kang, tadi Bu Nina teu damang jadi saya mantuan heula beberes warung. Ah manehmah, lain sms atuh, jadi we ieu si Yuyun pundung ka aing. Ah sia mah, nya nggeus urg cabs heulanya. Kang Aep langsung naik motor dan pergi. Lewat jam 9 malam mini market tempatku jadi tukang parkir sebentar lagi tutup, aku duduk dibangku sambil menghitung uang hasil parkir, lumayan ada 175 rb, tak lama datang Kang Aep dan Si jumron datang, mereka berdua tertawa cekikikan sambil turun dari motor, Kumaha Ran, rame euy tadi. Lumayan kang. Ieu aya 175, jawabku sambil menyodorkan uang, dia menghitung kembali uang itu dan memberiku 100rb, yeuh bagian maneh. Nuhun kang, nya atuh saya rek langsung baliknya kang, capek euy. Eh.. rek kamana maneh, moal nginum heula, ges lah kalem we, ieu aya gelek bray, bari nginum kan mantap. Aduh kang moal ah, sok we, saya balik heulanya.. ucapku sambil memakai jaket, Kang Aep tertawa. Kalem lah, yeuh keur di imah, ujarnya sambil memasukan bungkusan kecil ke kantong jaketku. Sampai di kosan aku langsung mandi, beres mandi ku buka bungkusan kecil dari Kang Aep, ternyata isinya ganja kering. Asyik… Enak nih ngelewatin malam. Ku buat dua lilit ganja dan mulai kuhisap, asap kelabu perlahan menelan kesadaranku kepalaku seakan semakin padat, semua panca inderaku seakan rileks. Karena merasa lapar aku pun masuk ke dapur untuk mencari makanan, saat melewati ruang tamu kulihat kamar Bu Nina lampunya masih terang dan pintunya sedikit kubuka, penasaran ku berjalan perlahan ke arah kamarnya dan mengintip dibalik celah pintu, kulihat Bu Nina sudah tertidur, mungkin dia tadi lupa menutup pintu dan tertidur, tadinya aku akan menutup pintu itu tapi efek ganja membuatku horny dan nekat malah masuk kedalam kamar. Kuhampiri Bu Nina yang mengenakan baju tidur berenda warna putih. Dia tertidur menelungkup, sehingga pantatnya menungging menangtang, Penisku sudah ereksi penuh, tapi aku masih bimbang, hal ini bisa merusak hubunganku dengannya, malah bisa – bisa aku digebukin masa jika tiba2 Bu Nina teriak jika terbangun. Tapi rasa konak ini tak bisa aku tahan. Selintas ide menyeruak di kepalaku yang ringan, masih ada satu lilit gele yang belum kubakar, kubakar gelek itu dan kuhembuskan perlahan ke arah wajah Bu Nina, dengan harapan membuatnya semakin terlelap tidur, sudah setengah lilit ku hisap gele dan menghembuskannya ke hidung Bu Nina, beberapa kali Bu Nina terbatuk tapi dia tetap tertidur pulas, hmmm… Sepertinya aku berhasil membuatnya bermimpi indah, karena disela tidurnya dia tampak tersenyum manis, yang membuatku semakin gelisah. Tanganku mengusap pantat Bu Nina perlahan , kuangkat bagian bawah baju tidurnya hingga kepinggang, tampak celana dalamnya yang berwarna hitam menggunung menutupi pantatnya, ku dekatkan hidungku ke pantat Bu Nina, kuhirup udara di sana, wangi sekali, oh… Ternyata Bu Nina rajin merawat organ kewanitaannya. Aku seakan terbius, ku ciumi celana dalam itu dan perlahan menariknya ke bawah sampai lutut. Terpampang dua gunungan pantat putih dan mulus, ku menyeruakan kedua pantat itu dan tampaklah liang anus dan vagina yang tertutupi bulu hitam lebat. Aku tak tahan, ku mulai menjilati pantat itu dan mulai menjilati liang anusnya, Esssssshhhhh… Bu Nina merintih pelan, aku berhenti dan melihat ke arah wajahnya, matanya masih tertutup hanya nafasnya saja yang terlihat lebih cepat, aku berdiri dan mendekati wajahnya, aku berjongkok ditepi ranjang, wajah kami berdekatan, aku ciumi pipinya yang chubby, mengarah ke arah telinganya yang terhalang rambutnya yang ikal dan panjang sampai ke bahu, ku singkap rambut yang menghalangi telinga, kujulurkan lidahku ke lubang telinganya. Bu Nina kembali merintih dalam tidurnya, perlahan ku beranikan diri untuk membalikkan tubuhnya, Payudaranya ikut bergoyang saat tubuhnya rebah telentang, Indah sekali, ku raba pelan kedua payudara itu, tercetak puting besar dibalik baju tidurnya yang putih dan tipis, Matanya masih tertutup, bibirnya sedikit merekah, ingin rasanya menjejalkan penisku kedalam mulut itu, tapi aku masih ragu, aku takut akhir yang buruk terjadi. Tapi aku tak tahan , ku buka celanaku , tampak penisku sudah berontak , keras dan berotot, kukocok dengan tangan kiriku sementara tangan kananku liar keraba wajah, payudara dan gundukan diantara selangkangannya yang masih tertutup celana dalam,beberapa bulu jembutnya yang lebat ada yang keluar dari sisi celana dalam. Oh… Nikmat sekali jika aku menusukkan penisku kegundukan itu. Tanganku yang semula hanya mengusap dan meraba celana dalamnya mulai berusaha menyeruakan celana dalam itu untuk melihat vaginanya. Vaginanya mulai basah, rintihan Bu Nina mulai semakin sering. sssssshhhhhh….aaaahhhhh….ssssttt, kepalanya menoleh kekiri dan kekanan, matanya tertutup rapat, kuharap dia membawa kenikmatan ini didalam mimpinya. Aku kehabisan akal, aku ingin menyetubuhinya tapi aku takut. Tapi rangsangan ini semakin hebat, aku sudah tak tahan, kocokan tanganku semakin cepat. Ku tarik baju tidurnya hingga sebatas leher, payudara indah itu bergelayut mempesona, meskipun tidak terlalu kencang, tapi sangat menantang, oh aku merasa dahaga saat melihat putingnya yang hitam dan besar mancung keluar. Ku dekatkan bibirku ke putingnya, kujulurkan lidah dan mulai menjilatinya, Aaahhhhhh….. Oh…… Papah…. Bu Nina mengerang, dia mulai terangsang dan bermimpi bercumbu dengan suaminya. Ku mulai menghisap dan menggigit pelan puting itu. Sementara tangan ku terus saja mengusap bibir vaginanya yang sudah basah dan licin, Euuuuuhhhh…. Aahhhhhh…kenikmatan yang kuberikan direspon dengan lenguhan panjang Bu Nina, aku sudah mau keluar, ku arahkan kepala penisku di mulut vaginanya, tapi aku tak berani untuk menusukkannya, meskipun nafsuku sudah menggelegak dikepala, akhirnya aku hanya berani memutar-mutar kepala penisku dibibir vaginanya sambil terus mengocoknya, Ahh…..nikmat sekali. Aku tak tahan, dan sampai…. ahhhhhhhh… Crot…crot, spermaku menyemprot dibibir vagina Bu Nina. Aku terkulai lelah, duduk disamping tubuh Bu Nina yang masih tertidur pulas, Spermaku kental menempel di bibir dan bulu-bulu vaginanya. Oh …luar biasa…akhirnya impian yang kupendam sejak lama kesampaian juga. Krek…suara pintu kamar mengejutkan ku, aku melihat ada bayangan yang berkelebat, aku kaget dan buru2 memakai celanaku, aku rapihkan celana dalam Bu Nina dan menarik baju tidurnya seperti semula, lalu aku beringsut dan mencium keningnya, Makasih sayang, mungkin nanti kita akhirnya akan bercinta atas keinginan kita berdua dan aku berjanji akan membuatmu melayang sampai langit ketujuh.

Aku terbangun dan merasa tubuhku sangat rileks, jam masih menunjukan jam 3 malam, sakit kepala telah hilang, hmmm…ampuh juga obat yang ku minum tadi malam. Tidurku lelap sekali dan aku masih ingat walau samar-samar tadi malam aku bermimpi bercinta dengan suamiku, … Oh papah betapa aku merindukanmu, air mata mengalir perlahan di pipiku, sudah lebih dari 10 tahun aku ditinggal mati olehnya. Rasa kesepian dan kepedihan batin ini kutahan demi kedua anakmu yang telah kulahirkan dan kubesarkan seorang diri. Mimpi semalam terasa nyata sekali, mungkin karena rasa kesepian ini membuat mimpiku sangatlah erotis bahkan buas, aku bermimpi kau menjilati setiap bagian tubuhku, bahkan kau dalam mimpi menjilati dan menghisap lubang duburku, padahal saat kau masih hidup kita tak pernah melakukan hal-hal aneh itu. Mengingat mimpi semalam aku kembali terangsang, tanpa sadar aku sudah meremas-remas kedua payudaraku, tanganku merambat kearah selangkanganku, hingga akhirnya sampai ke vaginaku yang sudah basah, aneh padahal aku baru saja menyentuhnya, kumasukkan jariku kebalik CD dan kurasakan ada cairan yang lengket yang membasahi vagina dan bulu-bulu disekitarnya, aku heran cairan apa ini, rasanya aneh jika ini cairan yang keluar dari vaginaku karena aku baru mulai merabanya, apa karena mimpi semalam membuat vagina ku banjir. Reflek aku cium jari-jariku yang basah dan lengket, Ahhhh…. Aku kenal aroma ini…. Ini kan bau sperma lelaki… Aku tercekat…. Otakku berusaha mencari jawaban bagaimana mungkin ada sperma keluar dari rahimku…

Aku menoleh pintu ke pintu kamar yang sedikit terbuka, aku tidak ingat apakah sebelum tidur aku menguncinya atau tidak, langsung saja aku membayangkan satu wajah yang akrab dikeseharian ku..Randu.. Ah tidak mungkin, tidak mungkin dia berani berbuat tak senonoh kepadaku, aku sudah menganggapnya sebagai anakku sendiri, tapi tak ada lagi lelaki dirumah ini selain dia. Antara malu, kecewa, marah tumbuh di hatiku, tapi ada perasaan lain yang ikut tumbuh pula, tubuhku terasa semakin hangat dan gelisah, aku ulangi lagi menghirup jemariku yang basah, Ohh… Darahku seakan mengalir deras saat mencium bau sperma itu, vaginaku terasa semakin geli hingga berkedut-kedut, Ahhh… Aku tak tahan rasa ini, tangan kiriku langsung meremas-remas bibir vaginaku.. Ohhh nikmat sekali…kumasukkan jariku kelubang vagina dan mulai mengocoknya cepat…Ahhhh.ssssshhhttt, aku seperti kesetanan, tubuhku melenting tak kuat menahan kenikmatan ini, Aku jilati jari-jari tanganku yang basah oleh sperma, terasa asin, enak sekali.. aku cabut tangan kiriku dan juga menjilatinya, kini gantian dua jari tangan kananku mulai mengobel-ngobel kelentitku, Aaaaaawwwwhh…seakan seluruh darah ditubuhku bermuara semua dan berkumpul di area selangkanganku, aku hujamkan jariku semakin dalam hingga ke rahimku, dan semesta seakan meledak dan melebur menjadi satu, seluruh ototku mengejang hingga pantatku terangkat ke atas… Ohhhhh….ouuuuuhhhh… tulang-tulang diseluruh tubuh ku laksana lepas seiring mengalirnya cairan dari dalam vaginaku yang membuatnya semakin basah kuyup.

Tubuhku terkulai lemas, mataku menerawang menatap kelangit-langit kamar, aku terisak betapa harga diriku sekan tercabik-cabik telah melakukan hal ini, ku selalu menjaga diriku untuk tak melakukan masturbasi meskipun aku sedang merasakan nafsu birahi, terlebih aku sadar tadi aku melakukannya sambil membayangkan wajah Randu. Ya Tuhan…. Kasihanilah hamba Mu ini.

Randu baru keluar kamar setelah matahari berada tepat diatas langit. Sebetulnya dia sudah bangun sejak pagi tadi, tapi ada perasaan galau dan cemas yang membuatnya tak berani keluar kamar. Dia teringat kejadian semalam, setelah dia mencumbui tubuh Bu Nina yang sedang tertidur dan menyemprotkan spermanya ke bibir vagina Bu Nina, sekelebat dia melihat bayangan yang melewati pintu kamar Bu Nina, setelah dia keluar kamar dia melihat lampu kamar Zahra menyala, kecurigaannya semakin terjawab, pasti tadi bayangan Zahra yang ia lihat, tapi apakah Zahra melihat perbuatannya ia masih ragu dan berharap tidak. Ah.. sial, padahal malam itu indah sekali runtuknya dalam hati, semakin lama berpikir perasaan was-was semakin menjadi, dia mulai sadar bahwa ada kemungkinan Bu Nina akan curiga karena dia lupa untuk membersihkan cairan spermanya yang muncrat keatas vagina Bu Nina, ah… Gila… Randu memaki, sambil menghisap ganja dia berusaha menenangkan diri, tapi bukan perasaan tenang yang ia dapat, malah penisnya mulai ereksi kembali membayangkan kejadian semalam, Aaarrgggghhh…. Dasar kontol kurang ajar, gampang sekali terangsang… Dia memaki penisnya. Akhirnya Randu nekat juga keluar kamar karena merasa lapar, dia celingak-celinguk melihat ke arah ruang tamu, tak tampak Bu Nina, rumah terasa sepi, Zahra tampaknya belum pulang sekolah. Dengan berjingjit, dia melihat depan, tampak warung juga tutup, mungkin Bu Nina masih sakit dan tidak berjualan hari ini, dia lalu pergi ke dapur dan kemudian membuka tudung saji..Sial, Bu Nina ternyata gak masak hari ini, Ahhh… Indomie lagi nih… Setelah Randu selesai makan indomie dia pun bergegas ke arah kamarnya lagi tapi saat melewati kamar Bu Nina dia berhenti, dia penasaran apakah Bu Nina masih sakit, walaupun tadi malam dia berbuat tak senonoh kepadanya tapi sesungguhnya Randu sayang pada wanita itu, perlahan dia menguping ke pintu kamarnya, tapi tak terdengar suara, hening. Dia beranikan diri untuk mengetuk pintu.. Bu…bu ibu masih sakit? … Tidak ada jawaban, sementara didalam sebenarnya Bu Nina terkejut mendengar suara Randu, ada rasa marah dan malu dihatinya, oleh karenanya dia diam saja. Bu…bu… Ibu baik-baik saja, Randu mengetuk kembali ada rasa khawatir tumbuh dihatinya.. karena khawatir pula dia akhirnya perlahan membuka pintu yang ternyata tidak dikunci, dia melongok kedalam dan melihat Bu Nina sedang duduk menghadap cermin, dia lihat ada air mata yang membasahi pipinya. Randu perlahan menghampiri, dia berdiri dibelakang Bu Nina yang saat melihat Randu masuk kembali menangis dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Bu…bu … Ibu kenapa? Randu mencoba menahan debaran jantungnya berdegup kencang, dia sadar mungkin kejadian semalam yang menyebabkan Bu Nina menangis. Bu Nina masih menangis terisak, Randu… kenapa kamu tega berbuat hal keji pada ibu, ayo ngaku , kamu semalam masuk ke kamar ibu kan? Katanya sambil masih terisak dan menutup wajahnya…Randu terdiam mematung, malu rasanya telah membuat wanita yang ia sayangi menangis, Kenapa Randu… Kenapa…???? Bu Nina berteriak dan kini matanya yang sembap menatap marah kearah Randu yang berdiri tertunduk.. Bu Nina kemudian berdiri, dengan tangan kanannya dia menampar wajah Randu keras. Randu hanya terdiam, ada sedikit darah disudut bibirnya akibat tamparan itu. Kamu tega, bangsat… Bajingan kamu…!!!!. Hardik Bu Nina sambil memukuli dada Randu. Tangisan Bu Nina semakin menjadi, Randu membiarkan kepalan tangan Bu Nina berulang kali memukuli dirinya, dia pasrah, dibunuhpun saat itu dia siap. Setelah lelah menangis dan memukuli Randu Bu Nina kemudian duduk ditepi tempat tidur, dia masih menangis terisak, Randu kemudian duduk disampingnya. Maafin Randu Bu…Sungguh kejadian semalam terjadi begitu saja, Randu lepas kendali, Randu memang bersalah… Dia kemudian berlutut dihadapan Bu Nina dan memegang lutut Bu Nina dan menggucang-guncangnya, Maafin Randu Bu, Randu Khilaf, Randu bersedia melakukan apapun untuk membayar dosa-dosa Randu, Randu rela kalau ibu mau melaporkan hal ini ke polisi, biar Randu menghabiskan hidup dipenjara sampai mati, Randu rela bu… Tapi sumpah mati, Randu sayang sekali sama ibu, Maafin Randu bu. Randu menangis dan bersimpuh, wajahnya menempel dilutut Bu Nina. Bu Nina hanya terdiam, dia pun sadar sejak kehadiran Randu rasa kesepiannya sedikit terobati, apalagi saat anak lelakinya sudah kerja di Jakarta dan jarang pulang, Randulah yang ia percaya untuk menjaga dirinya dan anak perempuanya. Bu… Bicara bu… Jangan diam, ayo pukul lagi, ayo tampar lagi, ucap Randu dengan wajah menghiba, kepalanya mendongak ke atas menatap Bu Nina. Bu Nina membalas tatapan itu, rasa marah dan kecewa masih terlihat dimatanya. Apa yang kamu lakukan ke ibu dosa besar Randu… Ini aib yang gak sanggup ibu pikul. Bu sumpah mati bu, Randu sayang sama ibu, Randu gak ada niatan menyakiti ibu, ucapnya sambil meremas jemari Bu Nina. Tadi malam Randu tak kuasa menahan perasaan Randu ke Ibu yang selama ini Randu pendam, Randu ingin menemani jika ibu sakit, Randu ingin menemani jika ibu butuh teman bicara, Randu ingin memeluk tubuh ibu jika ibu merasa kesepian, Randu ….. Cukup Randu ! Tangan Bu Nina menutup mulut Randu agar ia berhenti bicara. Apa kamu sadar aku ini seusia ibumu, seharusnya kamu menghormati ibu… Sadar kamu Randu..sadar?!. Randu sadar bu, Tak ada sedikitpun di hati Randu untuk tidak menghormati ibu, tapi perasaan Randu ini nyata, perasaan sayang Randu ini membuat Randu ingin membahagiakan ibu, Semalam bisa saja Randu memperkosa ibu kalau Randu mau, tapi tidak Randu lakukan, Randu hanya membelai-belai tubuh ibu, dan Randu melihat ibu dalam tidurpun menikmatinya, oleh karena itu Randu teruskan mencumbu ibu, apakah ibu sadar Randu berusaha untuk memuaskan ibu, apakah ibu sadar tadi malam setiap lekukan tubuh ibu Randu ciumi, Randu jilati, bahkan liang anus ibu pun tanpa merasa jijik Randu jilati. Itu semua Randu lakukan agar ibu mendapat kepuasan dalam tidur, sehingga saat bangun ibu akan merasa bahagia karena bermimpi bertemu almarhum suami ibu dan bercinta. Wajah Bu Nina memerah mendengar semua perkataan Randu. Tubuhnya terasa lemas mendengar kata-kata Randu yang tanpa malu menceritakan kejadian semalam. Randu…. kamu gak bisa berbuat hal itu ke ibu…Itu perbuatan terkutuk Randu..kata-katanya tergetar. Randu berdiri dan memegang pundak Bu Nina yang tertunduk menatap kelantai kamar. Bu , ibu boleh saja mengutuk Randu, tapi rasa sayang Randu ke Ibu apa adanya, Randu tak peduli usia kita berbeda, Randu tak peduli ibu akan membenci Randu, yang Randu inginkan hanyalah ibu merasa bahagia, melihat ibu bermimpi dan menikmatinya saja sudah membuat Randu bahagia. Tapi jika kehadiran Randu disini hanya menjadi aib dan tak membuat ibu bahagia, berarti Randu sudah tak pantas untuk berada di rumah ini. Selesai berkata itu Randu pun melangkah keluar kamar.

Bu Nina terdiam dan menatap kepergian Randu dengan perasaan yang campur aduk. Sesungguhnya diapun sangat menyayangi Randu, tapi selama ini rasa sayang itu sebatas ia artikan sayang kepada lelaki yang ia anggap anaknya. Tak berani ia berpikir lebih dari itu. Walau kalau mau jujur ada perasaan hangat yang selalu ia rasakan setiap ia bersama dengan Randu, hari-harinya terasa lebih berwarna jika dilewati bersama Randu. Setiap pagi Randu lah yang selalu mengantarnya ke pasar, dan terkadang saat berboncengan di motor tanpa sadar ia merasa terangsang jika Randu mengerem mendadak dan payudaranya menempel dipunggung Randu. Tubuh Randu yang tinggi dan tegap ditambah sorot matanya yang tajam seringkali membuat perasaannya seakan kembali merasa muda. Tapi itu semua ia tepis jauh-jauh karena hal itu sangatlah tak pantas.. Randu… Bu Nina memanggil nama itu lirih sambil menatap ke arah pintu yang kini terbuka. Sementara Randu sudah menghilang dari pandangannya.

Oh shit… Sial… Aku berjalan mondar-mandir di kamar, kenapa juga aku lupa membersihkan sperma ku di vagina Bu Nina, ah…sial! Sekarang aku harus pergi dari rumah ini. Aku terduduk di kasur, mengingat kata-kata yang kukatakan ke Bu Nina, mungkin itu adalah hal yang bisa aku lakukan dalam kondisi segenting ini, Sayang? Hmmm… Mungkin lebih tepatnya sedari dulu aku ingin menindih tubuh montok itu. Apa mungkin dia bisa percaya semua perkataan ku tadi, lalu seandainya dia percaya kata-kataku apakah akan bisa merubah situasi genting ini… aaahhh… Tolol.. aku sungguh tolol. Sekarang aku pasti disuruh meninggalkan rumah ini, dan aku gak mungkin pulang kampung ke Cianjur, pasti ibuku akan curiga dan berusaha menghubungi Bu Nina untuk menanyakan kenapa aku tak tinggal lagi disini… Anjiiiingg… Tolol … Aaaaaarrrghhh. Kepalaku pusing memikirkan semua ini, aku ambil bungkusan kertas berisi ganja, setelah kubuat lintingan lalu aku menghisapnya dalam, otakku berusaha untuk tidak berpikir, asap ganja membuat kamarku berkabut. Aku hampir saja tertidur saat kudengar ketukan di pintu kamarku, Siapa ya? Efek ganja yang memenuhi kepalaku membuatku lambat berpikir, lalu dengan gontai kubuka pintu kamar, kulihat Bu Nina berdiri disana, tanpa ku persilahkan masuk aku kembali duduk dikasurku, aku berusaha untuk tak memperdulikan kedatangannya. Bu Nina lalu masuk dan duduk disebelahku. Randu, ibu mau bicara, kamu tahu kalau ibu sekarang hanya tinggal berdua dengan Zahra, Tidak ada lagi lelaki dirumah ini selain kamu, menurut ibu sebaiknya kita lupakan apa yang terjadi semalam, ibu akan memaafkanmu jika kamu berjanji tidak akan mengulang perbuatan itu, lagipula ibu sudah berjanji kepada ibumu sampai kamu mendapat pekerjaan yang baik kamu akan tinggal bersama ibu. Aku menatap kearah Bu Nina, kita berdua bertatapan, tapi tak lama Bu Nina membuang tatapannya. Randu, kok mata kamu merah, kamu sakit mata ya? Nggak bu, tadi setelah aku keluar dari kamar ibu, Randu tak kuasa menahan tangis, Randu menyesal telah menyakiti ibu, padahal niat Randu ingin membahagiakan ibu, aku terus mengulang kata-kata itu, sudah kadung kepergok, aku akan mencari jalan untuk dapat menidurinya. Dia hanya terdiam. ku lihat hidungnya mengendus-endus. Randu kamu kalo ngerokok buka dong jendela kamarnya, ini asapnya sampe bikin ibu sesak, kamu ngeroko apa sih ko baunya menyengat. Aku tak menjawab, aku malah menghampiri Bu Nina, dia terkejut saat tanganku merangkul pinggangnya. Randu…!! Dia melotot kearahku, lalu kutarik tubuhnya dan ku peluk, dia berontak, tapi semakin ku eratkan pelukanku. Randu.. apa- apaan kamu…Ssttttt.. diam bu! Randu hanya ingin bicara, dengar baik-baik. Aku berbisik didekat telinganya. Ibu jangan takut, Randu akan selalu berusaha membuat ibu bahagia, Randu ingin ibu merasakan kenikmatan yang tadi malam ibu rasakan. Jujur sama Randu ibu menikmati kan saat lidah Randu mengorek-ngorek lubang pantat ibu? karena Randu melihat ibu melenguh dan merintih saat itu. Eeh…. Randu jangan kurang ajar kamu!! Randu lepasin ibu! , suara Bu Nina bergetar dan mulai terisak. Dia meronta berusaha melepaskan diri. Aku semakin mendekatkan mulutku ke kupingnya yang tertutup jilbab. Ibu diam saja!, karena ini akan menjadi pengalaman paling nikmat yang akan ibu alami, Randu akan menjadi budak sex buat ibu, tiap malam Randu akan menemani ibu tidur, menciumi ibu, menjilati setiap inchi tubuh ibu, Randu akan menghisap susu ibu, dan Randu akan menjilati memek ibu, itil ibu akan Randu hisap sampai ibu menjerit menahan kenikmatan, dan saat ibu orgasme akan Randu sedot habis cairan memek ibu. Bu Nina semakin meronta. Ahhww.. ku bungkam mulutnya yang tadi akan berteriak, aku tahu sebenarnya Bu Nina terangsang mendengar kata-kataku, lalu aku tindih tubuhnya, kedua pergelangan tangannya aku cengkram erat, kakinya yang berusaha menendangku kutahan dengan kaki kananku, aku sudah tak tahan berbasa-basi, saat ini juga akan aku perkosa wanita ini, dia menjerit karena tanganku yang membungkam mulutnya kupakai untuk mengambil tali rapia yang ada didekat kasur, reflek aku bungkam mulutnya dengan mulutku. Emmmmhh….mmmmhhhb bajjingann.. stttaannn.. dia masih berusaha teriak. Lalu aku ikat kuat kedua tangannya dengan tali dan tali itu aku ikatkan ke kaki lemari, aku bekap mulutnya dengan tangan kiri sambil aku mencari sesuatu untuk menyumpal mulutnya, kulihat ada Cd milikku dan lalu kusumpalkan kemulutnya…mmmmhhh…mmmhhhh dia terus meronta, kulihat air matanya mengalir membasahi pipi. Lalu ku ikat pula pergelangan kakinya dengan tali. Kini aku duduk dan memperhatikan Bu Nina yang sudah kuikat dan kusumpal mulutnya berusaha berontak dengan memiringkan tubuhnya ke kanan dan kekiri dengan sia-sia. Aku mulai meraba payudaranya yang besar yang masih tertutup gamis, perlahan tanganku turun keperutnya dan lalu mengusap usap pahanya, aku menikmati proses ini dan aku sudah sangat terangsang, penisku terasa sesak terjepit celanaku. Lalu aku berdiri dan membuka celana dan CD ku, tampak penisku sudah tegak berdiri siap mendobrak. Kulihat mata Bu Nina terkejut dan dia memalingkan wajahnya saat melihat penisku. Lalu aku tidur disampingnya, kupeluk tubuhnya, kusingkapkan jilbabnya hingga terlihat lehernya yang putih, kuciumi leher itu dan hisap kuat sampai meninggalkan jejak-jejak berwarna merah. Lalu ku jilati kupingnya dan menjulurkan lidahku ke lubang telinganya. Terasa nafas Bu Nina semakin memburu, rontaannya mulai melemah, dan mulai menggelinjang saat aku meremas remas payudaranya. Tenang sayang, nikmati, Randu akan membawa ibu kedalam kenikmatan yang bahkan belum pernah ibu dapatkan dari suami ibu. lalu aku tarik perlahan gamisnya yang panjang sampai sebatas perut terlihat Cd nya yang berwarna putih mulai basah dibagian vaginanya. Ini memek ibu udah basah, nikmatkan sayang, aku berbisik, dan kulihat wajah Bu Nina memerah, matanya terpejam dan butiran keringat membasahi wajahnya. Lalu ku usap – usap cd nya, dan ku menyeruakkan cd itu hingga tampak mulut vaginanya yang tertutup bulu lebat. Aku mulai menekan-nekan itilnya, tubuhnya mengejang, gimana nikmat kan sayang?
Terus ku tekan dan ku kobel-kobel lubang vaginanya, kutarik kebawah cd nya hingga sebatas lutut, aku tidak leluasa untuk mengeksplorasi daerah selangkangannya karena kakinya kuikat. Bu… ikatan kaki ibu akan saya buka tapi ibu janji untuk nurut sama Randu, Randu janji tidak akan berbuat kasar, tapi itu kalo ibu tidak melawan. Bu Nina diam saja kutarik wajahnya agar melihat kearahku tapi dia kemudian memalingkan muka. Kulepaskan ikatan kakinya, dia diam saja, mungkin dia sudah lelah untuk berontak, dan tentunya sudah terangsang oleh cumbuanku, karena kulihat ada cairan bening mulut vaginanya. Kulepaskan cd nya dan ku lempar ke sudut kamar, Kujilati jemari kakinya, ku ciumi dari kaki, menjalar ke paha dan lalu kujilati sela selangkangannya, jembutnya lebat dan hitam, ku kangkangkan kedua kakinya sehingga aku kini dapat melihat jelas vaginanya, di sibak jembut yang menghalangi dan kubuka bibir vaginanya, oh … begitu menggugah nafsu melihat vaginanya yang kemerahan, masih terlihat kencang karena mungkin sudah lama tak terjamah. Kuusap kelentitnya menggunakan ibu jari, tubuhnya mulai menggelinjang, meskipun dia tak melihat kearahku reaksi tubuhnya sudah mengatakan semua, Bu Nina sudah melayang terbius kenikmatan yang ku berikan. Ku jilati bibir vaginanya dan ku hisap – hisap kelentitnya, cairan mengalir tak terhentikan. Kulumat habis bak musafir yang kehausan di padang pasir. Eemmmmhh…..eeeeuuhhhhh…. ssssssssshhhh…aaaaaahhhh.. lenguhan Bu Nina membuatku makin menggila. Kutarik dan kulucuti baju gamisnya hingga kini dia hanya menggunakan bra dan jilbab. Kulepas bra nya dan kulempar entah kemana. Payudara besarnya begitu menggoda, langsung saja aku benamkan mukaku diantara belahan dadanya, kuemut puting kirinya yang besar dan tegak menantang, kuhisap-hisap.. Sssshhhtt..aaaahhhh, Bu Nina mendesis mendapat perlakuan itu, tangan kiriku meremas payudara kanannya. Tubuhnya menggelinjang. Lalu aku arahkan kepala penisku ke putingnya dan menggesek-gesekannya, mata Bu Nina terkesima melihat penisku yang tegak dan keras mempermainkan putingnya. Lalu aku berdiri, mengambil hp di meja dan memfoto Bu Nina yang telanjang dan hanya menyisakan jilbab ke kepalanya, Bu Nina tahu aku memfotonya berusaha untuk membalikkan wajahnya, tapi dengan menggunakan kakiku ku tahan agar tubuhnya tetap telentang, Cekrek..cekrek, ku ambil beberapa foto. Bu , akan Randu lepaskan sumpalan dimulut dan ikatan di tangan ibu, tapi ibu harus nurut sama Randu, kalo ibu macam-macam foto-foto ini akan Randu print dan sebar k tetangga. Tapi ibu jangan takut, Randu gak akan berbuat itu semua kalo tidak terpaksa. Ibu janji? Ku lihat dia menggangguk lemah. Aku lalu melepaskan ikatan tangannya dan membuka sumpalan dimulutnya. Tangan kanan Bu Nina berusaha menutupi dadanya sementara tangan kirinya menutupi area vaginanya. Eits.. suruh siapa ditutupin bu. Buka aja Randu ingin lihat, perintahku, dengan terpaksa kedua tangan Bu Nina kini menyamping di sisi tubuhnya. Aku berdiri dihadapannya, penisku tegak berotot siap tempur, jongkok sayang ! Sambil ku tarik dirinya yang masih telentang, hmmm…. Dia bersimpuh di hadapanku, wajahnya tepat berada di depan penisku, matanya memandangi penis itu seakan anak kecil yang baru melihat mainan baru. Dipegang bu kontolnya! jangan cuma dilihat. Dia menurutinya, dibelainya batang penisku, dikocoknya pelan. Sepertinya sudah tidak ada rasa sungkan lagi didirinya. Di sepong dong sayang dede nya!. Perlahan mulutnya disorongkan ke arah penisku, lidahnya keluar dan menjilati kepala penisku canggung. Kepala penisku terbenam dimulut hangatnya, kocokan tangannya bergerak makin cepat maju mundur. Yang ibu kulum namanya apa sayang? Tanyaku kepadanya kepalanya mendongkak ke arahku yang sedang berdiri sambil meringis nikmat, tapi hanya sesaat dia kembali fokus ke arah penisku. Kok gak dijawab sih, kan sudah janji nurut sama Randu, apa yang ditanya Randu ibu mesti jawab dan apa yang Randu pinta ibu mesti beri, jangan coba-coba mengingkari janji ibu, dosa bu. Iya Randu , ibu janji , jawabnya sambil berhenti mengulum penisku. Iya sekarang jawab, ini namanya apa? Ulangku sambil mengacungkan penisku didepan wajahnya.. euh..kkontol… jawabnya pelan sekali. Yang keras, kalo perlu ibu meneriakannya, cepat!! Aku sedikit membentaknya. Kkkkontol…kontoooollll!! Jawabnya kini dengan suara keras. Aku tertawa puas mendengar kata itu terucap dari mulut Bu Nina yang dikomplekku terkenal sebagai wanita yang agamis. Cepat masukkan lagi kontolnya bu, sampai ke tenggorokan!! Perintahku sambil menjambak jilbabnya kearahku.. Bu Nina memasukkan lagi penisku kedalam mulutnya, kali ini masuknya dalam sekali sampai ketenggorokannya hingga membuatnya tersedak penisku yang memenuhi ruang mulutnya Ah…nikmat sekali, kau kini resmi jadi budak seks ku sayang, selamanya…..

Zahra berjalan memasuki rumahnya, Assalamualaikum, dia mengucapkan salam setelah melepas sepatunya dan kemudian duduk diruang tamu. Kok sepi, pikirnya, Dia melangkah ke arah kamar ibunya, dan membuka pintu kamar, tapi tidak ada siapa2 disitu, lalu dia menuju ke dapur untuk mengambil minum. Kkkontol..kontooool! Zahra terkejut mendengar suara itu, tapi bukan suara itu yang membuatnya terkejut, karena dia kenal itu merupakan suara ibunya, tapi kata-kata itu membuatnya terkejut, suaranya berasal dari kamar Randu. Zahra terduduk lemas si kursi meja makan, pikirannya berkecamuk, dia ingat tadi malam saat mau ke toilet, dia melewati kamar ibunya yang berada disebelah kamarnya dan dia melihat Randu sedang menghisap susu ibunya, antara marah, kesal, dan kaget berkecamuk malam tadi, dan ada rasa cemburu menyeruak dihatinya, sudah lama dia memendam perasaan sayang kepada Randu, tapi dia merasa Randu hanya menganggapnya sebagai adik dan anak kecil. Kejadian kemarin pagi saat dia ke kamar Randu dan melihat Randu yang hanya memakai CD sudah cukup membuatnya tergagap, ia melihat ada benda lonjong dan beaar tercetak di balik cd Randu. Dan dia ingat kejadian semalam, sebuah pertunjukan sensual yang membuatnya shock. Tadinya Zahra ingin masuk dan memarahi Randu yang sedang berbuat tak senonoh kepada ibunya yang sedang tidur, tapi entah mengapa ia hanya terdiam dan malah mengintip dibalik pintu, ada perasaan asing yang bergelora ditubuhnya, baru kali ini dia melihat penis seorang lelaki dewasa dan dalam keadaan ereksi, Zahra terpaku melihat Randu mencumbu ibunya, lama kelamaan tontonan itu membuatnya terangsang, tanpa sadar dia mengusap – usap puting susunya, tubuhnya gemetar saat dia melihat Randu menggesekkan kepala penisnya ke bibir vagina ibunya, ada rangsangan yang membuatnya mengusap-usap kan tangannya ke CDnya sendiri, seumur hidup belum pernah ia merasakan hal ini, rasa gatal, geli dan asing di vaginanya membuat dia mempercepat usapan tangannya dan darah dalam tubuhnya dari ujung kaki seakan berkumpul si daerah kemaluannya, perasaan seperti ingin pipis tapi begitu nikmat melandanya hingga akhirnya tubuhnya berkelojotan saat gelombang orgasme yang ia tak tahu namanya itu menyapu. Ia sampai berjongkok karena lututnya terasa goyah, dia rasakan Cd nya telah basah. Sementara itu dia lihat Randu mengocok penisnya dan menyemburkan cairan putih itu kearah kemaluan ibunya.

Malam itu Zahra tidak bisa tidur, meskipun ia berusaha dengan menutup matanya, tapi kejadian itu terus membayanginya, dia marah pada Randu, dia juga marah pada ibunya, kerena menurutnya mungkin saja ibunya hanya pura-pura tertidur malam tadi. Dan teriakan ibunya barusan semakin meyakinkan kecurigaannya, ada perasaan sakit dihatinya, karena dia merasa ibunya telah mengkhianatinya, telah merebut Randu yang merupakan cinta pertamanya. Ingin rasanya ia teriak dan memaki ibunya, dan mengungkapkan kebencian dihatinya, terlebih saat dia mendengar rintihan ibunya dari kamar Randu. Zahra mulai menangis, tapi kakinya malah melangkah ke arah kamar Randu tanpa ia perintah. Dia lihat pintu kamar Randu tertutup.Ssshhhhh ahhhhh Randu… ooooohhh..Randu… enak sayang….a aaawww ia mendengar lenguhan ibunya, membuat hatinya panas, dia mengintip dari balik jendela kamar yang tertutupi tirai, tapi ada sedikit yang tersingkap, disana dia bisa melihat ibunya sedang menungging dan dia melihat kemaluan Randu menusuk-nusuk kemaluan ibunya. Meskipun marah tapi tontonan itu mau tidak mau membuat Zahra merasa bergairah, Aaaaahhhh… Randu…ibu mau keluar….mmmmmmhhhh…ia lihat tubuh ibunya makin menunggingkan pantatnya dan tak lama tubuh ibunya berkelojotan .. Ahhhhh Randu…..aaaahahhhh ibu dapet lagi sayaaaaaaangg…aaaaaaaaaahhh…..
Zahra tak kuat mendengar dan melihat kejadian itu, dia kemudian berlari kearah kamarnya sambil menangis tersedu.

Tubuhku merasa melayang ke langit ketujuh, baru kali ini aku rasakan orgasme sehebat ini, seluruh tubuhku serasa tak memiliki tulang, deru nafasku terburu seperti habis dikejar setan, oh.. kenapa ini harus terjadi padaku, aku tak bisa memungkiri Randu telah memberikan kenikmatan yang belum pernah aku rasakan. Aku balikkan tubuhku, kulihat Randu tersenyum, penisnya masih tampak kokoh dan tegak, ukuran penisnya yang besar dan berotot itu membuatku seperti perawan, vaginaku seakan terbelah saat penis itu menghujam vaginaku. Gimana bu, nikmatkan bu? tanya Randu yang membuatku malu, Ya.. aku malu karena menikmati perkosaan ini, atau ini mungkin sudah tak bisa disebut perkosaan karena aku sekarang sama sekali tidak melawan, pada saat pertama Randu memeluk tubuhku aku sangatlah kaget, aku tak pernah menyangka ia akan berbuat senekat itu. Aku sudah berusaha untuk melepaskan pelukannya itu, tapi apalah artinya perlawananku menghadapi Randu yang sangat kuat, aku takut melihat tatapan Randu yang buas, dia mengikat tangan dan kakiku, dan menyumpal mulutku dengan cd, aku merasa tercekik, saat dia membuka celananya dan mengeluarkan penisnya jantungku berdebar kencang, melihat penis yang besar dan mengkilat, pasti akan sakit jika penis itu dimasukkan ke kemaluanku, tapi tubuhku berkata lain, saat jarinya mengusap-usap kemaluanku tubuhku terasa terbakar, aku berontak tapi tubuhku meminta Randu untuk melakukan lebih dari itu. Saat dia mengancam akan menyebarkan fotoku jika aku tidak menuruti keinginannya aku mengangguk. Tapi bukan karena ancamannya aku menganggukan kepalaku, tapi aku sudah tak tahan ingin segera dimasuki olehnya. Kemaluanku serasa ingin digaruk oleh penisnya yang besar itu.

Berdebar hatiku saat dia menyuruhku menungging, karena aku belum pernah melakukannya saat dengan suamiku, karena suamiku sangatlah agamis, dan dia tidak pernah melakukan macam-macam saat menyetubuhiku. Tapi dengan Randu aku merasakan sensasi yang luar biasa, di jilati vagina dan lubang duburku saat aku menungging, oh luar biasa sekali rasanya, sebenarnya aku malu dan jengah saat Randu dengan buas menjilatinya tanpa rasa jijik sedikitpun, tapi tak lama tubuhku bergetar dan akupun mendapatkan orgasme sampai kurasakan vaginaku berkedut-kedut dan tubuhku bergetar hebat.

Baca Juga : Cerita Hot Tante Mupeng Ingin Dimanja

Tahu kalau aku orgasme Randu langsung menempelkan kepala penisnya ke mulut vaginaku, dan mendorongnya, oh..aku rasakan kepala penisnya memasuki vaginaku, dia memaju mundurkan penisnya dan itu membuatku kembali terangsang, Penisnya terjepit oleh vaginaku, seluruh penisnya akhirnya amblas memasuki tubuhku dan aku menjerit karena rasa sakit dan nikmat yang melebur dan membuatku meradang.

Kok malah ngelamun sayang, yuk kita ngentot lagi say…aku tersadar dari lamunanku, tubuhku masih lemas tapi Randu menarik tanganku dan lalu memeluk erat tubuhku, diciumnya bibirku, lidahnya berusaha menerobos masuk kemulutku. Sayang, mau yang lebih nikmat gak? bisiknya yang membuatku merinding, aku sudah dua kali mencapai orgasme sementara aku tahu Randu belum keluar, ada perasaan ingin membalas semua kenikmatan yang telah Randu berikan. Kamu mau ibu gimana A? Tanyaku memberanikan diri. Dia raih tanganku dan mengarahkannya ke penisnya, aku mengerti dan langsung menggenggam penis itu dan mengocoknya. Aku pengen ngentot pantat ibu, bisiknya ketelingaku, aku terkejut mendengar permintaanya itu. Jangan Randu jijik ah… jawabku, Randu malah tertawa pelan, Tidak ada satu bagianpun dari tubuh ibu yang membuat Randu jijik bu karena menurutku setiap bagian tubuh ibu sempurna.. ucap Randu yang membuat merasa tersanjung. Randu kemudian telentang dikasur. Sini sayang masukin kontol Randu ke lubang pantat.. pinta Randu. Dengan berdebar aku mengangkangi tubuhnya, ku pegang penisnya dan mengarahkannya ke lubang duburku, terasa kepala penisnya mengganjal di lubang duburku, tapi dia tarik tubuhku ke bawah sehingga kepala penisnya memasuki duburku, Aaaawww … aku mengaduh, duburku serasa belah, sakit rasanya, tapi aku tahan karena aku ingin membuat Randu senang, pelan sekali aku coba menaik-turunkan tubuhku, kuabaikan rasa sakit diduburku, lama kelamaan duburku mulai terasa licin dan aku tekan keras tubuhku hingga penisnya amblas kedalam duburku..Ah… sakit, tapi ada sensasi kenikmatan dibalik rasa sakit itu. Iya sayang… terus sayang..lenguhan Randu membuatku mempercepat gerakan tubuhku naik turun, Ahhh.. kenikmatan itu datang lagi, kenikmatan yang lain, kenikmatan yang absurd, rongga duburku semakin lama semakin rileks dan kenikmatan janggal itu memenuhi tubuhku, tubuhku terasa panas, ingin rasanya kubuka jilbabku tapi tadi Randu memintaku untuk tetap memakainya. Tangannya meremas-remas payudaraku. Kupandangi wajahnya, matanya terpejam dan wajahnya menyiratkan kenikmatan, dan hal itu membuatku bahagia. Ahh.. bu lebih cepat bu aku mau keluar… cepat sayang..racauan Randu membuatku mempercepat gerakan tubuhku, ibu jari Randu mengusap-usap vaginaku dan ini membuatku gemetar, ada dua kenikmatan menyergap tubuhku yang datang dari kedua lubang ditubuhku, Oooohhhh..nikmat sekali mataku terpejam, aku merasa ingin kencing. Ah nikmat…Sssshhhhtt… Randu… ibu pingin pipis sayaaaaaang…..ucapku setengah berteriak. Ayo keluarin sayang.. Dan gelombang itupun datang menyapuku, aku mengalami orgasme hebat,tubuhku mengejang hingga terkencing-kencing, Aaaaaahhhhh….Randuuuuuu….Ahhhhhh…… aku menjerit, air kencing bercampur cairan vaginaku menyemprot membasahi tubuhnya. Tubuhku berkelojotan, rasanya saat itu tubuhku serasa meledak menjadi partikel-partikel. Kesadaranku untuk sesaat hilang. Perasaan itu terlalu nikmat untuk bisa dijelaskan. Randu memegang pinggangku, tubuhnya bergerak cepat menekan kearahku, tubuhku sudah mata akibat kenikmatan tadi. Bu…aaaaahh…aku mau keluar sayaaaaang..aaaaahhhhhh… lalu ia tarik tubuhku dan memeluknya, kurasakan ada yang menyemprot didalam duburku. Ahhhh… akhirnya Randu pun mencapai klimaksnya, tubuh kami berpelukan, menikmati sisa-sisa kenikmatan yang kami rasakan, hatiku terasa penuh, aku bahagia,tak akan pernah lagi kulepaskan pelukan ini. I love you Randu.

Ku hisap dalam rokokku, jam di dinding sudah menunjukan jam 5 sore. Ku melirik kearah kasurku dan kulihat Bu Nina masih tertidur telanjang hanya memakai jilbab. Aku tersenyum, pasti dia kelelahan setelah ku genjot tubuhnya hampir selama 2 jam. Entah berapa kali dia mengalami orgasme, rasanya puas melihat seorang wanita alim menjerit-jerit menahan kenikmatan yang aku berikan. Duh lapar banget nih.. aku lalu berpakaian dan beranjak keluar kamar. Aku memasuki dapur dan membuka tudung saji, ada ayam goreng disana yang langsung aku sikat. Selesai makan aku duduk di sofa ruang tamu sambil menyalakan tv. Tiba-tiba aku sadar, pasti Zahra sudah pulang sekolah sejak tadi siang, kulihat kearah pintu kamarnya yang tertutup, lalu aku berdiri dan melangkah ke arah kamarnya..Zahra…zahra kamu sudah pulang? aku mengetuk pintu kamarnya. Tapi tak ada jawaban. Kucoba membuka handel pintu tapi pintu terkunci. Berarti Zahra ada didalam, mungkin dia masih tidur pikirku. Zahra….zah.. bangun…sudah sore aku kembali mengetuk pintu kamarnya. Tak lama kulihat Bu Nina memasuki ruang tamu, kutatap wajahnya yang bersemu merah saat mata kami bertemu, ia menghampiriku. Lalu kucium pipinya tapi dia menghindar dan matanya mengerling sambil menatap kamar anaknya. Kayanya si Zahra tidurnya pulas banget udah Randu bangunin tapi gak nyahut tuh bu.. kataku. Bu Nina kemudian mengetuk pintu kamarnya..Zahra… bangun nak udah sore, udah mau maghrib nih gak baik , cepet bangun.. Iyaaa.. ini Zahra udah bangun..berisik tau. Terdengar jawaban ketus dari dalam kamar. Aku bertatapan dengan Bu Nina sama-sama heran, karena baru kali ini Zahra bersikap seperti itu, dia anak yang sopan dan sangat penurut. Mungkin dia lagi ada masalah sama temannya bu, maklum ABG kataku berusaha menenangkan Bu Nina yang tampak marah. Aku lalu berbisik ditelinganya. Sayang…. nanti malam pintu jangan di kunci ya, sekarang Randu mau pergi keluar dulu bisikku sambil meremas pantatnya. Bu Nina bersemu merah dan langsung masuk kekamarnya.

Aku menangis tersedu, kubenamkan wajahku dibantal, sejak maghrib aku tidak keluar kamar, berkali-kali ibuku mengetuk pintu menyuruhku makan malam, tapi tak aku hiraukan, aku benci dia, aku tak ingin melihat mukanya, masih terngiang rintihannya tadi siang saat bersetubuh dengan Randu, dan aku benci, bagaimana mungkin seorang ibu yang selalu menasehatiku untuk menjaga akhlak malah bersetubuh dengan lelaki yang bukan muhrimnya, lelaki yang aku cintai. Ya, aku telah mencintai Randu sejak lama, dia yang selalu menghiburku saat aku bersedih, dan ia selalu membantuku jika aku sedang kesulitan, buatku tak ada lelaki lain yang aku inginkan selain dirinya. Banyak orang bilang aku berwajah cantik, bahkan banyak teman sekolahku yang ngajak aku pacaran, beberapa bahkan sering main ke rumah agar dapat bertemu denganku, tapi aku tak tertarik dengan mereka, karena dihatiku yang ada hanya Randu, yang kelak aku harapkan menjadi suamiku. Dan melihat kejadian semalam dan tadi siang aku curiga ibuku sengaja memperdaya dia, karena mana mungkin lelaki setampan dan segagah Randu mau berbuat mesum dengan ibuku yang sudah setengah baya begitu saja, kalau dia melakukannya dengan Teh Ratna aku masih bisa mengerti, tapi dengan ibuku, Huh..rasanya tidak mungkin Randu mau. Jam 9 malam aku akhirnya keluar kamar karena kebelet pipis, kulihat pintu kamar ibuku tertutup, aku ke toilet tapi saat mau kubuka pintunya terkunci. Siapa ya? suara Teh Ratna bertanya dari dalam toilet, Zahra teh.. teteh masih lama, aku udah kebelet ingin pipis teh, buruan ya.. pintaku. Klik..terdengar kunci pintu kamar mandi dibuka, Ya udah masuk aja… Teteh masih agak lama nih belum selesai… kamu masuk aja. Ah nggak teh, ga papa, biar Zahra tahan..ujarku, padahal aku sampai merapatkan kedua kakiku karena tak kuat menahan pipis. Udah gak papa, kita kan sesama perempuan, gak usah malu, daripada kamu nanti ngompol lo, ayo masuk…katanya sambil membuka pintu. Karena aku sudah tak tahan akhirnya aku masuk dengan terburu kedalam, dan langsung menurunkan cd ku dan berjongkok. Seeerrrr…ah rasanya lega, aku membelakangi Teh Ratna yang kulihat sekilas tadi sedang duduk di toilet duduk. Tapi setelah beres pipis aku bingung karena untuk cebok aku harus mengambil semprotan air yang ada di toilet. Teh…tolong dong ambilin semprotan Zahra mau cebok.. pintaku, Ini Zahra ambil…Tapi karena jarak antara aku dengan Teh Ratna sekitar dua meter mau tidak mau aku harus berbalik dan kulihat Teh Ratna sedang duduk di toilet, tangan kanannya menyodorkan semprotan air sementara tangan kirinya sedang memegang gunting. Beres cebok aku segera merapihkan pakaian dan beranjak mau keluar kamar mandi. Eh..Zahra tunggu, bisa bantu Teteh gak? Teh Ratna menarik tanganku, Bantu apa teh? Ini tolong cukurin bulu teteh, masih ada bagian yang susah nih, bantuin dong, pintanya, aduh.. Teh aku malu ah.. jawabku, ngapain malu, kan kita sama -sama perempuan, lagian kita kan masih saudara, ayo bentar aja, bantuin teteh please?!. Karena merasa gak enak akhirnya aku bersedia. Kulihat Teh Ratna duduk mengangkang diatas toilet duduk, kulihat rambut kemaluannya yang sudah rapih tercukur, ada rasa jengah juga melihat kemaluan Teh Ratna, tapi aku mencoba bersikap biasa saja. Ini udah rapih teh, yang mana yang belum dicukur? Ini kan baru diguntingin, sekarang tolong kamu rapihin lagi pake ini, jawabnya sambil menyodorkan silet cukur. Aduh teh , Zahra takut salah ah, nanti kalo luka gimana? Soalnya Zahra belum pernah ngelakuinnya teh. Udah gak papa, pelan-pelan aja, jawabnya. Akhirnya aku mau, untuk mempermudah aku berjongkok, hingga kini kemaluan Teh Ratna tepat didepan mukaku, ah jengah rasanya berada diposisi seperti itu.

Kemaluan Teh Ratna mulus sekali, bibirnya berwarna coklat kehitaman, tapi kulihat bagian dalamnya berwarna merah. Bulu-bulu hitam yang sudah tercukur menurutku membuatnya terlihat seksi, ah kenapa aku malah memikirkan hal itu, mukaku pasti memerah karena malu. Bulu-bulu ini Zahra, tolong kamu hilangkan pake silet cukur. Lalu aku dengan hati-hati mengerok bulu-bulu itu pake silet cukur, hingga bagian itu botak dan mulus tanpa bulu, Ssssssshhh… kudengar Teh Ratna mendesah, setiap aku menggoreskan silet, kulihat matanya terpejam, situasi ini membuatku makin jengah dan malu, tapi anehnya ada rasa menyenangkan saat melakukannya. Tak lama seluruh area kemaluan Teh Ratna kini tampak sudah bersih, dan kini terlihat makin seksi, kudengar nafas Teh ratna sedikit tersenggal. Udah teh… aku menyadarkan Teh Ratna yang matanya masih terpejam, Eh oh udah ya, kulihat Teh Ratna membuka mata dan menatap kearahku seperti kecewa karena kegiatan ini sudah terhenti. Emang memek kamu belum ada bulunya ya, sampai kamu belum pernah bercukur, tanya Teh Ratna tanpa sungkan, aku yang ditanya hal seperti itu kaget dan malu, apalagi Teh Ratna menyebutkan nama kemaluan dengan kata itu. Ada sih teh tapi gak pernah Zahra cukur, jawabku. Harusnya rutin kamu cukur, kan sunnah, sini mau Teteh bantu gak, tanyanya, Aku bingung ditanya seperti itu tapi aku hanya terdiam dan menurut saat Teh Ratna menyuruhku duduk di toilet. Disingkapnya rok panjangku dan ditariknya lepasnya cd ku, lalu ia buka kedua kakiku hingga kinibaku mengangkang, dia pandangi kemaluanku dengan ekspresi yang aneh, dia tersenyum. Aduh Zahra cantiknya memekmu, katanya. aku merasa sangat malu saat dia melakukan itu. Ini udah mulai tumbuh bulunya, kamu harus rajin nyukurnya, jadi nanti calon suamimu pasti akan bahagia. Aku hanya terdiam dan sedikit risih saat muka Teh Ratna hanya berjarak sekitar 10 cm dari daerah selangkanganku. Ah… geli teh, kataku meringis saat jari Teh Ratna menekan dan mengusap-usap kemaluanku. Udah kamu diam aja, ini Teteh rapihkan dulu bulu-bulunya biar nanti gampang nyukurnya. Katanya dengan nafas yang terengah-engah, jujur saja aku mulai dihinggapi perasaan asing diperlakukan seperti itu.
Rasa risih , jengah tapi excited. Ahhhh…uuhhhh teteh geli, kenapa dijilat punya Zahra, aku mendengus saat Teh Ratna menjilati kemaluanku. Iya biar licin sayang, jadi nanti gak akan luka pas dikerok silet, jelasnya. Badanku makin gelisah saat Teh Ratna menusukkan lidahnya ke lubang kemaluanku, ooohh.. rasanya enak, ahhh…aku rasanya ingin pipis lagi.. Teh…teteh… udah teh, Zahra ingin pipis..aaahhh.. Pipis aja sayang, gak papa, itu berarti Zahra mulai dewasa, sudah siap untuk membahagiakan calon suami Zahra, katanya sambil terus menjilati kemaluanku. Kulihat sambil menjilati kemaluanku tangan Teh Ratna pun aktif menggosok-gosok celana dalamnya sendiri. Makin lama rasa ingin pipisku makin menjadi hingga akhirnya ku tak tahan, ku jambak rambut Teh Ratna dan menekan wajahnya ke arah kemaluanku.Aaaaaaaaahhhh Teteeeeeeehhhh Ahhhhhh… enak teh aaaaaaaahhhh… tubuhku berkelojotan, tidak ada air pipis yang keluar tapi ada perasaan yang luar biasa nikmat ei kemaluanku yang seakan terlepas dari dalam sana. Teh Ratna menyedot – nyedot cairan di kemaluanku, tidak terlihat rasa jijik saat ia melakukannya. Nah ini namanya orgasme sayang, tanda nanti saat kamu menikah, kamu akan bahagia dengan pasanganmu kelak, jelasnya lagi, dia usap-usap cairan yang tersisa ke bulu-bulu tipis disekitar kemaluanku. Ah tubuhku rasanya lemas, Teh Ratna mulai mencukur bulu-buluku dengan sangat berhati-hati. Kamu udah punya pacar belum? Belum teh, jawabku. Emangnya disekolah kamu gak ada apa cowo ganteng yang deketin kamu, kamu kan cantik sayang. Banyak sih teh yang suka godain Zahra..tapi Ratna gak suka, soalnya Ratna… hampir saja aku bilang bahwa aku hanya mencintai Randu, untung saja aku cepat sadar. Soalnya apa? Nnggg.. nggak teh, soalnya Ratna belum kepikiran untuk pacaran, jawabku cepat. Udah rapih nih, lihat, memek kamu jadi makin cantikkan, katanya sambil tersenyum kearahku, kulihat kemaluanku kini mulus tanpa bulu. Gimana tadi enak dijilat memeknya? Tanya teh Ratna sambil berdiri dan menaruh tanganya dipundakku, aku tergagap ditanya seperti itu, enakkan? Tanyanya kembali sambil mengusap daguku, aku hanya mengangguk malu. Ya sudah yuk kita keluar, tapi nanti kalo teteh minta bantuan lagi seperti tadi kamu mau kan nolong teteh? Iiiya teh. Jawabku. Kami pun berdua langsung keluar dari toilet, sebelum berpisah Teh Ratna sempat mencium pipiku, lalu aku pergi masuk kekamarku dan rebah ditempat tidur. Perasaanku rasanya tak jelas, ada rasa penyesalan dalam hati, tapi aku sebenarnya tak mengerti apa yang terjadi, dosakah yang telah aku lakukan tadi, karena aku tak tahu apakah saling mencumbu sesama wanita itu masuk kategori jinah? Ah.. aku tak tahu, ini merupakan pengalaman yang tak pernah aku sangka akan terjadi padaku. Kembali wajah Randu membayangi disela kantukku, aku ingat perkataan Teh Ratna tadi, bahwa aku sudah dewasa dan bisa membahagiakan calon suamiku kelak, dan aku yakin Randu lah sosok itu. Aku tersenyum, besok aku akan menemuinya dan menumpahkan semua perasaanku padanya akan kulakukan apapun untuk dapat merebut hatinya. Dan malampun menyelimuti bumi, aku tertidur pulas beralaskan mimpi dan Randu ada dimimpi itu.

Author: 

Related Posts